Beberapa sumber termasuk portal berita online beritasatu.com memberitakan bahwa Prabowo Subianto mengatakan bahwa Setya Novanto tidak mencatut nama presiden. Pernyataan ini muncul setelah beliau menggelar pertemuan dengan para petinggi KMP yang juga dihadiri Setya Novanto, menyusul kisruh pencatutan nama Presiden Jokowi yang dilaporkan Mentri ESDM ke Majelis Kehormatan Dewan DPR RI baru-baru ini.

Rasanya tidak ada yang aneh apalagi salah kalau kelompok partai-partai yang mendudukkan SN di kursi empuk ┬áKetua DPR memanggil ybs. untuk didengarkan “cerita”-nya lalu kemudian membahas bersama-sama apa yang alan dilakukan untuk menghadapi polemik itu. Bahkan kalaupun mereka memutuskan untuk berjuang mempertahankan posisi SN-pun tetap terasa wajar. Sebagian orang saat merasa mukanya tercoreng akan berusaha membersihkannya dengan membuang kotoran yang menempel, sementara sebagian lagi mungkin lebih suka berusaha menutupinya saja.

Tapi saya kira kalaupun mau membela, bukannya seharusnya dengan cara yang wajar, masuk akal, atau bahkan elegan. Dan itu yang saya tidak lihat dari pernyataan Prabowo kali ini.

Sebagai pengagum berat Prabowo bahkan dari sejak beliau masih seorang TNI aktif, saya berharap beliau akan menendang SN yang sudah melempar mukanya dengan (maaf) tai, mempermalukan beliau dengan melakukan hal yang sangat memalukan. Sayangnya untuk satu dan lain hal – pastinya beliau sudah memikirkannya masak-masak – beliau memilih untuk mempertahankannya. Okelah, tapi kembali ke caranya itu yang membuat saya kecewa dua kali.

Apakah Prabowo sudah mendengarkan lengkap rekaman pembicaraan diantara ketiga orang tang konon ada dalam pertemuan itu? Dari yang muncul di permukaan, yang diketahui publik, sepertinya beliau baru mendengar dari sisi SN saja, yang sebagai pelaku yang tersudut, tentu bisa melakukan dan mengatakan apa saja untuk melindungi dirinya sendiri. Lalu kalau baru mendengar penjelasan dari SN saja, apa pantas beliau kemudian pasang badan mengatakan “SN tidak mencatut nama Presiden dan Wapres”. Bagaimana beliau bisa tahu pasti kalau hanya mendengar penjelasa dari orang yang dipersalahkan.

Kalau beliau demikian “pede”, apa jangan-jangan beliau memang sudah mendengar lengkap rekaman pembicaraan tersebut? Sebagai tokoh yang sangat berpengaruh, bisa saja beliau mendapatkan akses pada rekaman tersebut. Tapi kalau benar begitu, bukannya itu sesuatu yang tidak seharusnya terjadi? Rekaman itu baru sampai MKD yang kemudian konon meneruskannya ke Polri untuk verifikasi. Karena sehebat apapun Prabowo beliau bukanlah anggota MKD, bukannya seharusnya beliau tidak memiliki akses pada rekaman itu.

Kalau demikian adanya, kalaupun beliau ternyata sudah mendengar rekaman pembicaraan Setya Novanto saat (konon) memalak Freeport dengan mencatut nama Presiden dan Wapres, bukannya sampai titik ini sebaiknya beliau menggunakan itu untuk keperluan internal saja sementara ke luar beliau hanya bicara yang normatif saja, sampai mungkin datang waktunya beliau bisa mengatakan “Berdasarkan fakta, SN tidak mencatut nama Presiden.”