Kegemaran saya terhadap kopi luwak bermula dari film romantis Something’s Gotta Give yang beredar pada tahun 2003, artinya 13 tahun yang lalu. Di film tersebut tokoh utama pria Jack Nicholson digambarkan memiliki kebiasaan kesana kemari membawa termos yang katanya berisi kopi kegemarannya, kopi luwak, yang katanya dari Indonesia dan harganya sangat mahal. Sebagai penggemar kopi, selesai nonton saya langsung kebat-kebet internet mencari referensi. Meskipun belum sehebat sekarang, informasi di dunia maya saat itupun sudah cukup untuk memberi saya pencerahan mengenai kopi luwak. Hanya saja untuk mencoba perlu waktu cukup lama karena kenyataan bahwa biji kopi luwak dipungut dari kotoran hewan bukanlah sesuatu yang mudah diterima. Selain itu, saat itu kopi luwak juga tidak begitu mudah ditemukan. Baru sekitar 2 tahun kemudian saya memberanikan diri mencicipi kopi luwak, di sebuah kedai hotel terkemuka di Singapura. Harganya bukan hanya sekedar lumayan, tapi saya tidak kaget karena dari informasi yang cukup lama saya kumpulkan saya tahu kisaran harganya.

Rasanya yang lembut dan cenderung manis langsung membuat lidah saya jatuh hati. Rasa manis ini mungkin memang tidak bisa dirasakan oleh mereka yang biasa menikmati kopi yang bercampur gula, karena rasa manis yang sangat samar pada kopi luwak pastinya tidak semanis gula. Sedikit tambahan gula sudah akan menghilangkan rasa manis alami khas kopi luwak ini. Tapi rasa manis ini berbeda dengan rasa manis gula. Dengan menambahkan sedikit sekali gula pada kopi biasa┬ákita bisa menemukan tingkat kemanisan yang sama dengan kopi luwak, tapi rasa manisnya beda. Selain itu kopi luwak sangat lembut, tidak “nendang” seperti kebanyakan kopi biasa. Rasa yang lembut dan tingkat keasaman yang sangat rendah karena sudah terfermentasi di dalam perut luwak membuat saya bisa menikmati kopi ini sebanyak yang saya mau. Batasannya bukan lagi “tidak bisa minum kopi terlalu banyak” tapi justru karena harganya yang “nendang”.

Sepulang dari perjalanan itu saya semakin bersemangat mencari dan akhirnya menemukan satu tempat di Bali yang menjual kopi luwak dengan harga relatif murah. Untuk menikmati secangkir kopi luwak hanya perlu membayar 50 ribu rupiah saja, hampir sepersepuluh harga yang harus saya bayar di Singapura. Ada juga kopi luwak dalam bentuk biji dan bubuk yang dijual dengan harga hanya 150 ribu rupiah per 100 gram. Sangat mahal untuk ukuran kopi, tapi sangat murah dibandingkan harga kopi luwak di pasar internasional. Sejak itu saya tidak minum kopi luwak hanya kalau saya sedang dalam perjalanan. Di rumah, di kantor, tidak ada kopi lain selain kopi luwak. Relasi, teman, sahabat, yang datang berkunjung, selalu saya suguhi kopi kegemaran saya itu, meskipun memang ada sebagian yang menolak. Kopi luwak juga menjadi pilihan praktis buah tangan saat saya bertemu dengan relasi bisnis di luar negeri. Jauh lebih mudah dibawa, lebih murah, dan tetap cukup berkesan dibanding membawa patung Bali misalnya.

Sayang mahalnya komoditas kopi luwak membuat manusia mulai lupa diri. Mereka tidak lagi hanya memungut kotoran luwak yang berserakan di atas tanah di kebun-kebun kopi, tetapi memproduksinya dalam skala komersial. Luwak-luwak ditangkap dan dikandangkan. Di dalam kandang sempit yang mereka tempati, setiap hari diberikan sejumlah besar biji kopi untuk dimakan sehingga keesokan harinya mereka bisa memungut kotoran yang mengandung biji kopi di lantai kandang. Luwak yang tadinya merupakan hewan liar yang hidup di alam bebas, berpindah-pindah antara perkebunan kopi dan hutan di sekitarnya, harus menghabiskan sisa hidupnya di dalam kandang sempit, hanya supaya manusia yang menangkapnya bisa mendapat uang lebih banyak. Tidak sampai disitu, setelah luwak liar semakin langka untuk ditangkap dan diperdagangkan, mulailah muncul upaya penangkaran luwak. Tentunya luwak-luwak hasil tangkaran ini dari sejak lahir sampai mati hanya mengenal kandang sempit.

Dari sisi kehidupan, sebagai hewan liar tentu dikandangkan bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Tapi bagi luwak-luwak ini, penderitaannya tidak hanya sampai disitu. Mereka dipaksa untuk memakan kopi sebanyak-banyaknya supaya menghasilkan kopi luwak sebanyak-banyaknya pula. Seperti di alam bebas, luwak memang tidak hanya memakan biji kopi, tetapi juga bahan makanan lainnya. Di dalam kandang, makanan mereka juga dikombinasikan, tidak hanya biji kopi saja. Tapi, dari obrolan ringan dengan beberapa produsen kopi luwak, mereka memang mengatur sedemikian rupa kombinasi makanan ini. Makan selain kopi diberikan sangat terbatas supaya produksi kopi luwaknya optimal.

Mungkin memang masih ada kopi luwak yang didapat secara alami. Tapi jumlahnya pastinya semakin menipis karena luwak liar ditangkapi untuk dikandangkan. Ada produsen kopi luwak yang mengklaim bahwa mereka tidak mengandangkan luwaknya tetapi membuat kubah-kubah besar untuk menutupi kebun kopi dimana setiap kubah menaungi ratusan meter persegi kebun kopi lengkap dengan beberapa ekor luwak. Sedikit lebih baik daripada memasukkan luwak ke dalam kandang-kandang kecil, tapi tetap saja mereka tidak memiliki kebebasan seutuhnya. Kecuali mungkin kalau si produsen membuat kubah yang luas dalamnya ratusan hektar meliputi perkebunan kopi dan hutan alami. Bahkan sebuah pusat produksi kopi luwak yang mengaku memperlakukan luwaknya secara alami di Bandung Utara yang pernah saya kunjungi pun ternyata tetap saja mengandangkan luwak-luwaknya.

Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk menolong luwak-luwak tersebut. Hukum di negeri ini memang mengatur bahwa hewan merupakan hak milik absolut. Selama hewan tersebut tidak termasuk kategori dilindungi, mau diapakan-pun tidak melanggar hukum. Toh kuda-pun setiap hari disuruh kerja, dipecut kalau tidak mau bekerja, dan kalau sudah tua dan tidak bisa bekerja kemudian disembelih, sah-sah saja. Tapi setidaknya saya tidak mau menjadi bagian dari penyebab kesengsaraan hewan-hewan itu. Karena itu saya memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi kopi luwak. Say no to kopi luwak.