Curcol

Home/Curcol

Mi Instan Indomie Aneka Rasa

Ini cerita soal mi instan Indomie dan perkembangannya seiring dengan arus modernisasi global … halah. Dari sejak masa kanak-kanak jamannya hanya ada Supermi, saya memang bukan penggemar mi instan. Memang masih belum populer. Saking belum populernya, bukan hanya jarang, kalaupun sekali-sekali mi instan muncul di meja makan keluarga, biasanya mi instan ini disajikan sebagai lauk, dimakan bersama nasi. Satu bungkus bisa untuk sekeluarga. Mungkin itu yang membuat saya tidak begitu menyukai mi instan, entahlah.

Saat kuliah, jaman sudah berubah. Sudah ada beberapa merk mi instan beredar di pasaran. Supermi sebagai pionir sudah mendapat sejumlah kompetitor. Sebut saja mi instan Indomie, Sarimi, dll. Bahkan sudah ada mi goreng instan sebagai alternatif selain mi instan ala Supermi yang sejak awal hadir sebagai mi kuah. Cara konsumsinyapun sudah berbeda. Murah dan tersedia bahkan di warung-warung kecil di dalam gang-gang sempit, mi instan biasanya dinikmati sendiri. Sebungkus, dimasak sendiri, sekaligus habis. “Digado”, tidak lagi dimakan dengan nasi. Kalaupun dengan nasi biar lebih mengenyangkan, mi instannya satu bungkus ya buat sendiri.

Harganya yang murah, tersedia di mana-mana, dan mudah memasaknya membuat mi instan menjada “makanan pokok” para mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua, apalagi saat kalender mendekati akhir bulan dimana uang kiriman sudah mulai menipis.

Sebagai mahasiswa perantau, saja juga berhadapan dengan masalah yang sama, cadangan devisa yang menipis sampai setipis silet saat kalender mulai mendekati pojok kanan bawah. Tapi dalam kondisi itupun saat “teman-teman seperjuangan” mulai menjauhi warung nasi langganan untuk menghindari lilitan hutang dan menggantungkan hidup dari mi instan, saya lebih banyak memilih alternatif lain. Dengan biaya yang sama, daripada membeli sebungkus mi instan, saya lebih memilih sepiring nasi plus beberapa buah kerupuk, atau malah hanya sekantung “pilus”.

Jadi perhatian saya terhadap perkembangan permiinstannan nasional sangat kecil. Merk baru, rasa baru, gaya baru, tidak terlalu menarik perhatian saya. Saya tahu ada yang namanya pop-mi yang tidak perlu dimasak tapi cukup disiram air panas. Saya tahu ada bihun instan, yang sesuai namanya, bihun bukannya mi, tapi dikemas dan disajikan dengan cara yang sama. Saya tetap sangat jarang makan mi instan. Saya tetap saya. Dalam kondisi dimana kebanyakan orang akan melirik mi instan, saya lebih memilih alternatif lain. Lagian kondisi itu juga sangat jarang terjadi.

Beberapa hari yang lalu, muter-muter di supermarket dan melintas di lorong mi instan, saya tertegun cukup lama. Ternyata sudah sedemikian majunya perkembangan permiinstanan tanah air ini. Bukan hanya merk yang bejibun, masing-masing juga sangat kreatif menghadirkan aneka rasa.

Setelah cukup lama mengamati, sara rasa yang paling menojol nampaknya mi instan Indomie yang menyajikan rasa yang luar biasa aneh. Sebut saja rasa rendang yang merupakan makanan has Ranag Minang yang bukan hanya sudah meng-Indonesia bahkan sudah mendunia. Setidaknya di sejumlah negara yang pernah saya kunjungi, rendang bisa ditemukan dengan cukup mudah. Bukan hanya negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang lidahnya mungkin mirip-mirip. Di Hong Kong, di Amsterdam, ada juga.

Okelah rendang memang sudah begitu populer. Ternyata ada lagi Masakan Padang yang tidak sepopuler rendang, rasa dendeng balado. Ternyata tidak sampai disitu. Yang lebih spesifik dan lebih jarang ditemukan juga ada. Misalnya rasa rica-rica yang biasanya hanya bisa ditemukan di restoran-restoran Menado. Ada rasa iga penyet. Yang penyet-penyet ini kalau tidak salah masakan khas Jawa Timur. Ada juga rasa sambal matah khas Bali.

Andai saja saya masih kuliah. Mungkin saya juga akan jadi pemakan mi instan. Bayangkan betapa hebatnya. Meskipun uang di kantong sudah sangat pas-pasan, kita tidak harus tersiksa dengan makan Indomie setiap hari. Dompet boleh saja cekak, tapi kita tetap bisa menikmati masakan-masakan khas Nusantara seperti rendang, dendeng balado, iga penyet, dan lain-lain. Meskipun teksturnya tetap kenyal dan panjang khas gulungan mie, tapi kan yang penting rasanya.

 

Antara Kebiasaan Tidur dan Kesuksesan

Seperti saya kira kebanyakan orang Indonesia hari-hari terakhir ini juga mengalaminya, linimasa Facebook saja juga dijejali dengan pertentangan opini yang sangat tajam mengenai tuduhan penistaan agama yang ditujukan kepada salah satu kandidat Gubernur DKI Jakarta yang secara kebetulan juga merupakan calon petahana. Tentu saya juga punya pandangan sendiri, dan tentu saja seperti kebanyakan orang saya juga muak dengan opini-opini berlawanan terutama yang dikemukakan dengan cara yang sedikit – atau banyak – barbar. Tapi kebetulan hari ini ada yang menarik juga nyelip. Dua postingan mengenai kebiasaan tidur – atau kebiasaan bangun – yang kemudian dihubungkan dengan kesuksesan seseorang. Cenderung bertolak belakang, tapi entah mengapa muncul pada waktu yang tidak terlalu jauh berbeda. Di hari yang sama, dan waktunya juga hanya beda-beda dikit.

Pola Tidur Imers

Yang muncul terlebih dahulu adalah mengenai kebiasaan para praktisi internet marketing yang banyak diantaranya yang memiliki pola tidur yang tidak lazim. Malam hari biasanya mereka bekerja begadang. Bukan hanya sampai larut malam tapi sampai subuh bahkan sampai pagi. Sehingga diungkapkan bahwa di pagi hari, sekitar jam 8-an, saat kebanyakan orang memulai aktivitasnya bekerja, para praktisi internet marketing yang sering disebut – atau menyebut diri – imers itu masih tidur, baru tidur, atau bahkan belum tidur sama sekali. Memang selain begadang berkutat dengan pekerjaannya di malam hari, mereka juga manusia biasa yang hidup di dalam lingkungan tertentu dengan ritme yang normal. Mungkin saat mereka begadang sampai pagi, bukannya langsung nyungsep di atas bantal untuk melepas lelah, ada yang justru harus pergi mengantar anak sekolah.

Apakah kalau mereka bekerja sampai pagi itu artinya mereka bekerja keras, ya belum tentu juga sih. Yang jelas kebanyakan dari aktivitas imers memang bisa dikerjakan kapan saja. Tidak seperti profesi lain yang memang aktivitasnya memiliki rentang waktu tertentu, kebanyakan dari pagi sampai sore, aktivitas para imers ini memang kebanyakan bisa dilakukan kapan saja. Pagi, siang, sore, malam, tengah malam, dini hari, subuh. Kebanyakan, karena ada juga yang harus dilakukan pada jam-jam tertentu, misalnya mereka yang mengais rejeki dari AdSense, mengambil bayaran yang dikirim Google harus pada jam kerja normal Kantor Pos. Atau mereka yang bergerak di bidang perdagangan yang dikenal dengan istilah e-commerce, mengantar pesanan pembeli ke kantor kurir harus pada jam kerja normal mereka.

No. 1 – Imers Pekerja Keras

Tapi ada dua golongan dengan perbedaan yang sangat mencolok dalam menyikapi kebebasan waktu kerja ini. Ada yang bekerja keras, mereka bekerja dalam jumlah jam kerja yang sangat tinggi. Kalau sehari ada 24 jam, mereka hanya tidur beberapa jam saja, sisanya nongkrong di depan laptop, bekerja. Yang model begini biasa begadang untuk bekerja menyambung pekerjaan yang mereka lakukan di pagi, siang, dan sore hari. Biasanya mereka memang begadang. Bekerja sampai subuh bahkan pagi, tidur sebentar, bangun cuma untuk cuci muka dan nyeduh kopi, lanjut kerja lagi. Sebagian imers yang saya kenal ada yang tidur hanya 3-4 jam dalam sehari, selebihnya bekerja. Uniknya biasanya mereka ini tidur dari pagi sampai siang hari. Mereka yang bekerja terus dan hanya tidur beberapa jam saja ini, entah kenapa hampir tidak ada yang memilih tidurnya di jam normal saja. Katakanlah dari jam 12 malam sampai jam 4 subuh misalnya. Setelah subuhan langsung tancap gas.

Apakah pola tidur seperti ini bisa berdampak pada kesuksesan? Jelas bisa. Kecuali kalau keduluan sakit liver. Hehehe.

No. 2 – Imers Sampingan

Yang ini juga merupakan pekerja keras, tapi mereka membagi waktu kerjanya dengan pekerjaan lain, biasanya pekerjaan formal. Bagi banyak orang, menjadi imers biasanya merupakan pilihan mendapat penghasilan tambahan dari minimnya gaji yang diterima dari pekerjaan formal. Ada juga yag menjadikannya batu loncatan sebelum benar-benar berpindah jalur, dari karyawan menjadi pengusaha. Mereka ini biasanya dari pagi sampai sore bekerja seperti kebanyakan orang lainnya. Bekerja di kantor misalnya. Sore sepulang kerja, istirahat sejenak, lalu mulai menjalankan profesi imers-nya. Biasanya mereka terpaksa membatasi jam kerja imersnya. Sampai larut malam tapi biasanya tidak sampai pagi. Mereka masih menyisakan beberapa jam untuk tidur sebelum berangkat ke kantor pada pagi harinya.

Yang model begini bisa sukses juga. Biasanya aktivitas imers-nya kemudian memberi penghasilan yang cukup untuk menggantikan gaji dari pekerjaan formalnya. Lalu resign dan fokus menjadi imers dan berpindah golongan ke No. 1.

No. 3 – Imers Malas-Malasan

Nah yang ketiga ini sebetulnya yang paling tidak jelas. Kelihatannya seperti bekerja sangat keras, melek terus sampai pagi, tapi sebetulnya sih jam kerjanya biasa-biasa saja. Hanya pindah jam saja. Kalau kebanyakan karyawan bekerja dari pagi sampai sore hari selama 8 jam misalnya, mereka juga bekerja 8 jam, tapi dari malam sampai pagi hari. Pagi-pagi mereka ngorok sampai siang bahkan sore, setelah itu bersantai kesana kemari. Bermain game, mengerjakan hobi, atau melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti momong anak – dan ibunya. Parahnya, banyak juga yang kebablasan. Kebanyakan santainya sehingga meskipun melek sampai pagi, mereka hanya beneran bekerja beberapa jam saja, sisanya lebih banyak dihabiskan untuk bersantai.

Ada hubungannya melek sampe pagi dengan kesuksesan? Nggak ada. Yang ada malah sebaliknya.

Pola Tidur Orang Sukses

Posting berikutnya temen nge-share. Barang lama sebetulnya. Udah ada banyak artikel di portal-portal bisnis internasional soal ini. Yang dia share ini kayaknya bikin hanya sekedar ngejar “Like” aja dengan mengangkat sesuatu yang menarik, dibuat visually menarik juga. Kurang lebih seperti banyak judul artikel-artikel sejenis lah, morning ritual of highly successful people atau kalau diterjemahkan jadi ritual pagi orang-orang super sukses.

Nah kalo yang duluan bicara para imers biasanya tidur lambat, ini sebaliknya. Rupanya orang-orang sukses rata-rata bangun pagi. Lalu mereka memanfaatkan paginya untuk mempersiapkan diri menghadapi hari. Bukan sesuatu yang secara langsung berhubungan dengan pekerjaan tapi mempersiapkan fisik dan mental. Persiapan fisik misalnya dengan berolah raga. Persiapan mental misalnya dengan yoga dan meditasi.

Disini kita bicara orang-orang sukses kelas dunia. Sosok-sosok seperti pendiri Microsoft Bill Gates, veteran investasi Warren Buffet, pendiri Apple Steve Jobs, pendiri Virgin Richard Branson, pendiri Tesla Elon Musk, dan lain-lain.

Apa Hubungan Antara Pola Tidur dan Kesuksesan?

Sepertinya pertanyaannya tidak perlu sejauh apa hubungannya, tapi ada tidak hubungannya. Menurut saya sih bisa ada bisa tidak. Jadi kita juga tidak perlu terlalu lebay. Persoalannya begini. Liat kasus “Imers Malas”. Kalo dia tidur telat tapi bangunnya juga telat trus alih-alih langsung bekerja malah ngabisin waktunya buat main-main, darimana datangnya sukses. Bangun pagi juga demikian. Bangun pagi memang bagus, tapi kalo kemudian dia juga tidur siang sampe sore, nonton TV sampe tengah malem, trus tidur sampe subuh. Ya sama juga bohong lah ya.

Jadi kalo menurut saya, entah kasus imers yang tidur telat atau pengusaha-pengusaha kelas dunia yang bangun awal, tidak serta-merta kalo kemudian kita ikutin trus kita juga akan sukses. Ada banyak parameter lain.

Pantang Menyerah Tidak Selalu Baik

Berpuluh-puluh tahun kehidupan saja, saya selalu menjadi orang yang pantang menyerah. Bahkan ketika saya berhadapan dengan sesuatu yang sangat sulit dan saya sendiri tidak melihat ada kemungkinan untuk berhasil sekalipun, berhenti, mundur, tidak pernah saya lakukan. Jangankan melakukannya, terlintas di dalam fikiranpun tidak. Jalan terus. Sering kali orang-orang dekat yang menyarankan untuk berhenti lama-lama jengkel sendiri, kemudian saran mulai berubah menjadi sindiran, omelan, bahkan makian. Ngotot, keras kepala, bebal adalah beberapa sebutan yang mereka tempel di dahi saya atau mungkin mereka gantung di leher saya.

Salah satu yang sangat kuat menempel di kepala saya adalah tokoh motivasi Napoleon Hill yang lebih dari seabad yang lalu menulis buku Think and Grow Rich. Prinsip yang dikedepankanya, pantang menyerah, 100 tahun kemudian melahirkan buku berjudul Three Feet from Gold yang legendaris. Meskipun buku ini ditulis Sharon Lechter dan Greg Reid, tapi karena prinsip dasarnya merupakan gagasan Napoleon Hill, Three Feet From Gold menjadi lebih identik dengan si pemilik gagasan daripada para penulisnya.

Ada juga beberapa kata bijak yang juga menempel sangat kuat dan menjadi dasar saya bergerak dengan prinsip yang kurang lebih sama, pantang menyerah. Vince Lombardi mengatakan “Winners Never Quit, Quitters Never Win”. Pengertiannya kurang lebih orang sukses karena dia tidak menyerah, kalau dia menyerah di tengah jalan, mana mungkin dia meraihnya. Para pemenang tidak pernah menyerah. Sementara itu mereka yang mudah menyerah tidak akan pernah meraih keberhasilan, karena sebelum keberhasilan itu tercapai dia sudah keburu menyerah.

Penulis dan tokoh motivasi lain, Paul Coelho mengatakan “You Are Not Defeated When You Loose, You Are Defeated When You Quit”. Kita belumlah habis meskipun kalah atau gagal, karena kita selalu bisa mencobanya lagi, lagi, lagi, sampai akhirnya berhasil.

Memang sih, dari pengalaman saya, memang pada akhirnya saya selalu berhasil mencapai tujuan saya. Tapi memang tidak selamanya mudah. Ada yang mudah, ada yang memerlukan kerja keras, ada yang harus berdarah-darah. Ada yang sekali dicoba langsung berhasil, ada yang harus dicoba dengan usaha luar biasa, ada juga yang harus dicoba berulang kali. Sering kali pada akhirnya memang kalau dihitung-hitung, pengorbanannya jadi terlalu besar dibandingkan keberhasilan yang diraih. Entah karena pengorbanannya yang memang besar, atau nilai keberhasilannya yang menurun seiring waktu yang terbuang saat berusaha.

Entah karena semakin lama saya semakin realistis atau sifat ngotot khas usia muda sudah mulai memudar seiring bertambahnya usia, sekarang jalan fikiran saya jauh berbeda. Ralat: sifat ngotot tidak benar-benar khas anak mudah sepertinya, karena setiap hari kita juga banyak melihat perilaku pemuda-pemuda manja yang jangankan ngotot berusaha, keluar keringatpun malas.

Saya mulai berfikir bahwa pantang menyerah tidak sepenuhnya merupakan perilaku yang bijaksana. Sering kali menyerah justru lebih baik. Tapi memang bukan sembarang menyerah, tetapi tahu persis kapan waktunya menyerah.

Gambar diatas saya modifikasi dari ilustrasi terkenal Three Feet from Gold. Sesuai dengan kisah di dalam bukunya, gambar aslinya menunjukkan bagaimana seorang penambang menyerah dan berhenti menggali, pulang dengan lunglai, padahal ternyata berlian yang dicarinya sudah sangat dekat. Kenapa dia menyerah? Karena dia tidak tahu kalau berlian yang dicarinya sudah begitu dekat, dia tidak bisa melihatnya. Yang dia tahu, dia sudah menggali terus, terus, terus, dan berlian yang dicarinya tidak juga ditemukan. Karena dia menyerah, semua usahanya sia-sia. Padahal kalau dia pantang menyerah, sedikit lagi saja, dia akan meraih keberhasilan.

Tapi dari gambar di atas, saya tidak hanya berfokus pada lorong yang bawah, yang menggambarkan si pecundang dengan lunglai menyerah padahal berlian yang dicarinya sudah demikian dekat. Saya memberikan perhatian sama besar pada si pantang menyerah yang digambarkan di lorong atasnya. Dia begitu bersemangat, pantang menyerah. Dia sudah menggali lebih jauh dari si pecundang dan masih terus menggali. Tapi dia menggali ke arah yang salah, sampai kapanpun dia menggali dia tidak akan mendapatkan apa-apa selain membuang-buang waktu dan tenaga.

Sampai kapan si pantang menyerah itu akan terus menggali? Mungkin sampai alam (atau Tuhan) membuatnya berhenti entah bagaimana caranya. Mungkin sampai dia menggali begitu dalam dan menemukan batu yang sama sekali tidak bisa ditembusnya. Saat itu terjadi, mana yang lebih parah? Si pecundang yang sudah lebih dahulu berhenti atau si pantang menyerah? Dua-duanya tidak mendapatkan apa-apa. Tapi jelas “kerugian” si pantang menyerah jauh lebih besar. Bukan hanya soal waktu, tenaga, dan pikiran, tapi kesempatan lain yang mungkin dilewatkan karena sedang fokus dengan yang sedang dikerjakan. Si pecundang yang lebih cepat menyerah mungkin sudah lebih dulu memulai sesuatu yang lain.

 

Cucukan Kuping: Paling Penting Dalam Menunjang Karir

Perasaan karir saya tidak moncer-moncer amat. Heran juga ketika suatu saat tiba-tiba ada yang bertanya “Apa yang paling penting dalam menunjang karirnya Mas …” Setelah agak hilang kekagetan saya dengan pertanyaan itu, sayapun mulai mengais-ngais lemari file yang ada di dalam kepala saya. Meskipun belum lama saya “pensiun”, kalau untuk mengingat-ingat, jadi sudah lama sekali rasanya. Lama tercenung akhirnya saya ingat bahwa pertanyaan itu bukan baru kali ini saya dengar. Memang sudah lama tidak pernah saya dengar lagi, tapi dulu-dulu sering banget. Kemudian saya juga ingat persis jawaban yang selalu dengan spontan meloncat dari mulut saya, “Cucukan kuping!”

Aha! Sekarang giliran yang bertanya yang kaget dan terheran-heran. Nggak aneh. Dulu-dulu juga orang sering terheran-heran dengan jawaban itu. Kalau sekarang ternyata jawaban itu masih membuat orang terheran-heran, artinya ternyata masih ada hal-hal yang setelah sekian tahun tidak berubah. Padahal Presiden Indonesia saja sudah beberapa kali berganti.

Kata banyak orang, dulu saat saya masih muda memang karir saya cemerlang. Tidak ada yang tahu bahwa saya sebetulnya memiliki kelemahan yang sangat mendasar, kelemahan yang bagi banyak orang merupakan penghalang dalam membangun karir. Beberapa kali saya mendengar psikolog, career coach, dan orang-orang sejenis mengatakan bahwa mereka yang memiliki masalah ini tidak mungkin dapat membangun karir yang cemerlang. Harus dihilangkan! Lanjutannya bisa ditebak, rentetan sesi konsultasi psikologi yang tanpa disadari membuat dompet lebih cepat menipis dari yang seharusnya. Sembuhkah? Hehehe. Kalau saya jawab nanti mungkin akan ada yang merasa profesinya dilecehkan. Apalagi saya memang tidak bisa memberikan jawaban sahih, lha saya cuma denger-denger saja, saya tidak pernah mengalaminya sendiri. Malas saya sudah harus buang waktu bolak-balik berkonsultasi, bayar mahal pula.

Kelemahan saya adalah kesulitan menjaga konsentrasi. Padahal dari sejak mulai bekerja, bidang profesi saya kebetulan salah satu yang terkenal membutuhkan konsentrasi sangat tinggi, penulis. Tepatnya menulis program komputer. Tapi tidak hanya saat menulis program konsentrasi saya mudah terganggu, bahkan untuk pekerjaan lebih “ringan” sekalipun, seperti menulis laporan atau menulis posting blog (halah … menulis lagi). Untuk berkonsentrasi saya tidak punya masalah berarti. Saya bisa memusatkan pikiran saya pada satu hal untuk jangka waktu yang lama. Saya bisa seharian memusatkan konsentrasi pada program yang saya tulis misalnya, dan tidak ada hal lain yang melintas di kepala saya. Sudah jadi kebiasaan kalau saat saya bekerja, makan siangpun sering kali saya lupa. Kalau orang sering kesulitan dalam hal ini, misalnya lagi konsen tiba-tiba duit yang ilang inget naro-nya dimana. Saya tidak.

Masalahnya konsentrasi saya tidak bisa diganggu dari luar. Mudah sekali buyar dengan hal-hal kecil. Misalnya suara bising mendadak, orang tertawa, ada orang menjatuhkan gelas, dering telepon, dll. Kalau saat sedang bekerja ada orang yang datang menghampiri dan menanyakan sesuatu misalnya, meskipun hanya perlu beberapa detik saja untuk menjawab, hancur sudah konsentrasi saya. Jangankan tamu atau kolega mengajak diskusi, orang datang sekedar meminta kunci mobil karena saya parkir menghalangi orang misalnya, hanya perlu 5 detik untuk merogoh saku dan melempar kunci ke tangan orang, sidah bsa membuat konsentrasi yang terbangun berjam-jam hilang dan sulit disatukan lagi.

Nah soal karir, tentunya sangat terkait dengan performa. Lalu bagaimana performa kerja bisa prima kalau kita tidak bisa bekerja dengan baik karena kesulitan berkonsentrasi? Gangguan tentunya datang setiap waktu. Apalagi sekarang gangguan seringkali sengaja kita “undang”. Kalaupun kita bekerja dalam satu ruang tersendiri yang ditutup dan dikunci rapat-rapat, gangguan bisa tetap datang dari dering ponsel, dari notifikasi Facebook, dll. Padahal sekian lama saya bekerja, saya selalu memilih untuk bekerja di dalam satu ruangan yang sama dengan tim saya. Meskipun saya pemimpin, saya bos, saya lebih suka bekerja bersama-sama alih-alih menutup diri di dalam ruangan sendiri. Gangguan konsentrasi berseliweran sepanjang hari. Ponsel sendiri di-silent, ponsel orang lain berdering. Orang saling bercanda, office girl bawa gelas lalu tiba-tiba jatuh. Entah berapa banyak ragam gangguan yang bisa terjadi setiap saat, sementara konsentrasi saya sangat sensitif terpecah dengan gangguan-gangguan seperti itu.

Saya cukup beruntung karena biasanya selalu dibantu asisten-asisten yang siap melindungi konsentrasi saya. Misalnya pada jam-jam dimana saya mendapat jatah untuk berkonsentrasi, mereka akan menjadi “anjing penjaga”. Tidak boleh ada tamu yang menemui. Tidak boleh ada anak buah mendekat meskipun sekedar bertanya. Sampai ponsel saya pun mereka pegang supaya kalau ada yang menghubungi dan harus segera diangkat, bisa mereka handle dulu. Membantukah? Sangat. Tapi tidak cukup. Karena telinga saya tetap bisa mendengar. Salah satu programmer saya tiba-tiba berteriak kegirangan karena bug yang menghalangi program yang ditulisnya berjalan sempurna bisa dia selesaikan misalnya, tetap bisa membuat konsentrasi saya kabur.

Solusinya, ear plug alias cucukan kuping ini. Benda kecil yang biasanya dipakai saat berenang supaya air tidak masuk ke dalam kuping ini tidak pernah absen menemani saya. Saya bisa santai ketinggalan ponsel, dompet, kunci mobil, asal earplug tidak ketinggalan. Biasanya saya punya banyak dan menyimpan di semua tempat yang biasa saya “duduki”. Rumah, kantor, mobil, tas kerja, kompartemen di kolong jok sepeda motor, pastinya di dalam saku celana juga selalu ada, dan seperti dompet, setiap ganti celana tidak lupa juga earplug ikut saya pindahkan. Kalau benar-benar sial earplug tidak ada, biasanya saya pinjam earphone. Tidak bisa pinjam earplug karena jarang orang punya. Tapi earphone, apalagi programmer-programmer muda, hampir pasti punya. Kemampuan insulasi suaranya tidak sebagus earplug, tapi lumayan lah. Kalau sudah begini, kadang ada yang bertanya “Emang biasa dengerin musik apa sambil bekerja?” Mereka yang kenal baik dengan saya biasanya pada ngakak. Kalau kuping saya dicucuki earphone, bisa dipastikan kabelnya nggak nancep kemana-mana. Saya bukan sedang mendengarkan sesuatu, tapi sedang berusaha supaya tidak mendengar apa-apa.

Begitulah, tanpa earplug sulit saya menjaga konsentrasi. Tanpa konsentrasi terjaga, sulit saya menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Tanpa pekerjaan yang berhasil diselesaikan dengan baik, sulit membuat performa kerja optimal. Tanpa performa kerja optimal, sulit memacu karir. Jadi tanpa earplug tidak mungkin saya bisa memoles karir saya.

Kecewa Service AC Mobil di Denpasar

Kisah kekecewaan terhadap service AC mobil di Denpasar oleh Bengkel Surya Sakti yang berlokasi di Jalan Antasura ini berawal minggu lalu. Begitu menghidupkan AC mobil saat keluar rumah, tiba-tiba menyeruak bau bangkai yang sangat menyengat. Agak membingungkan juga karena sejauh pemahaman saya, jalur pemipaan AC mobil itu tertutup rapat, sementara kalau dari lubang keluar angin di dalam kabin, mestinya kalau ada hewan di dalam kabin pastinya sudah terdeteksi sebelum sempat masuk ke dalam lubang AC.

Dirampok Saat Service AC Mobil di Denpasar

Langsung meluncur ke bengkel AC langganan di bilangan Jalan A Yani, ternyata penuh banget, padahal hari itu jadwal cukup padat. Jadilah tujuan dialihkan menuju Jalan Antasura yang letaknya tidak terlalu jauh. Tanpa ba-bi-bu, AC langsung dibongkar. Fihak bengkel menjelaskan bahwa bau diakibatkan oleh adanya bankai tikus di dalam kipas blower. Estimasipun diajukan dan karena kami perlu buru-buru juga, langsung kami setujui untuk dikerjakan. Untuk jasa bongkar pasang, pembersihan, penggantian filter, dan penggantian freon dan olinya, total muncul angka Rp. 575.000.

Begitu selesai, AC terasa wangi dan dingin, jadi kami langsung meluncur keluar bengkel setelah membayar. Masalah mulai terasa saat hari beranjak malam. Karena terlalu dingin, potensio kipas AC diputar dari 2 menuju 1. Ternyata AC malah mati. Setelah dicoba-coba beberapa kali, akhirnya diketahui bahwa AC hanya hidup saat potensio kipas berada di angka 2,3, dan 4. Saat potensio berada di angka 1, AC mati. Karena besoknya hari Minggu dan bengkel tutup, masalah tersebut tidak langsung di-claim. Selain itu, pada hari Minggu itu tiba-tiba AC berfungsi normal. Dinyalakan dengan potensio kipas berada di angka 1, AC bekerja seperti biasa.

Setelah seminggu, persisnya 6 hari sejak service AC sebelumnya, tiba-tiba dalam perjalanan AC mobil mati. Setelah diotak-atik sana sini, ternyata AC hanya bisa hidup saat potensio kipas berada di posisi 4. Pastinya hembusan kipas kuenceng banget. Selain itu, hawa dingin hanya terasa beberapa saat setelah AC dihidupkan, setelah itu hanya tinggal angin saja. Hari sudah malam saat itu, jadi mobil baru dibawa lagi ke bengkel keesokan harinya.

Masuk bengkel, setelah mendapat penjelasan, para teknisi langsung membongkar AC. Fihak bengkel kemudian mendatangi kami di ruang tunggu dengan membawa 2 part AC mobil. Resistor harus diganti. Harganya Rp. 575.000 dan harus dipesan dulu, tidak bisa langsung diperbaiki. Kipas blower harus dibongkar dan kemungkinan besar harus ganti. Harganya Rp. 825.000, sama juga, harus menunggu part pengganti dipesan. Jadi totalnya Rp. 1.400.000. Meski ditambahi embel-embel “Kita bongkar dulu, tapi kemungkinan besar harus ganti”, saya sangat yakin ujung-ujungnya pasti minta ganti.

Berargumen bahwa masaha tersebut muncul setelah servis minggu lalu di bengkel yang sama, fihak bengkel berkelit dengan mengatakan part yang harus diganti tidak ada hubungannya dengan service yang dilakukan minggu lalu. Dia memperkirakan resistor rusak karena kencing tikus.

Tidak sepenuhnya percaya, kami meluncur ke tempat service AC mobil di Denpasar langganan kami, bengkel Pak Gede di Jalan A Yani Utara. Untungnya karena hari sudah menjelang sore, antrian sudah habis dan Pak Gede sudah santai.

Setelah mendengar penjelasan kami yang dibumbui alasan mengapa memilih pergi ke bengkel AC lain, Pak Gede membuka kolong dashboard, mencabut resistor, dan membawanya ke dalam rumah. Kira-kira 5 menit kemudian dia kembali. Sambil nyengir dia bilang “Ini ditulisin sih nggak boleh diperbaiki sendiri …” lalu ngeloyor menuju mobil untuk memasangnya kembali. “Coba Pak tolong hidupkan mobilnya”, perintahnya sambil masih bermain dengan obeng untuk menutup kembali panel kolong dashboard, seolah-olah sudah sangat yakin bakal cespleng.

Dan ternyata benar, AC mobil saya sudah kembali normal dalam waktu hanya sekitar 10 menitan saja. Mobil saya bahkan tidak sempat masuk bengkel, dikerjakan di pinggir jalan.

Belakangan beliau mengatakan kalau tidak bisa diperbaiki, spare part AC mobil yang diperlukan, resistor yang bermasalah itu, tersedia dengan harga Rp. 420.000. Jauh lebih murah dari harga yang diminta bengkel Surya Sakti yang seharga Rp. 575.000. Yang lebih mengejutkan sekaligus melegakan, saat ditanya berapa biaya yang harus saya bayar, dengan santai dia menyebut “Dua puluh ribu saja”. Cerita lebih serunya, saat uang bayaran dilebihi, dia juga menolak. “Ini saja cukup”, ucapnya sambil mengantungi lembaran duapuluh ribuan dan mengembalikan sisanya.

Sambil berjalan keluar, saya kembali mengulang cerita proses pembersihan yang melibatkan ganti freon, oli dan filter. Dia menyambut cerita saya dengan mengatakan “Wah jajan lumayan dong”, selorohnya. Tapi tak ayal sambungan kalimatnya membuat saya kaget. “Itu kalo disini saya kenakan Rp. 165.000 lho, lumayan mahal kan”, lanjutnya. Sambil nyengir kuda saya mengumpat alam hati karena di bengkel yang duluan saya ditodong Rp. 575.000 untuk pekerjaan yang sama. Saya sempat bertanya mengenai tipe freon dan merk filter yang dipakai untuk memastikan bahwa saya membandingkan layanan yang benar-benar persis sama.

Jadi saya “dirampok” Rp. 410.000 dari service pembersihan minggu lalu, karena membayar Rp. 575.000 padahal di tempat lain harganya hanya Rp. 165.000. Dan hampir dirampok lebih besar lagi, Rp. 1.400.000, untuk masalah yang dapat diselesaikan bengkel AC lain hanya dengan biaya Rp. 20.000 saja.

Kapok dan blacklist deh itu bengkel Surya Sakti, baik yang di Jalan Antasura / Nangka Utara, maupun outlet lain yang dia miliki. Anda kalau mau “selamat” juga saya sarankan nggak usahlah masuk ke bengkel AC yang satu itu.

Rekomendasi Bengkel Service AC di Denpasar

Untuk masalah sistem pendingin kabin mobil, saya sarankan service AC mobilnya di bengkel AC Pak Gede saja. Nama bengkelnya sama dengan nama si empunya yang juga merangkap sebagai kepala mekanik, Gede Service AC. Lokasinya di Jalan A Yani Utara. Kalau dari arah Jalan Gatot Subroto, terus saja melaju ke utara menuju Mambal. Di kiri jalan nanti ada Bengkel PAG. Bengkelnya besar, plang merknya juga segede gaban, jadi nggak mungkin kelewat. Nah tempat service AC Pak Gede ini ada di sebrang PAG. Bengkelnya relatif kecil, plang merknya juga kecil. Jadi pakai PAG saja sebagai patokan.

Lamborghini Surabaya, Kecelakaan atau Pembunuhan?

Minggu pagi sebagian kita dikejutkan tersiarnya berita sebuah mobil sport mewah Lamborghini Gallardo yang menyeruduk pedagang susu yang sedang berjualan di pinggir jalan di Surabaya. Selain merusak lapak dan meluka sepasang suami-istri pedagangnya, peristiwa itu juga menewaskan seorang pria yang sedang membeli susu. Rupanya si pedagang yang menghadap ke arah jalan melihat datangnya mobil dan sempat menghindar, sementara si pembeli yang posisinya membelakangi jalan bernasib lain.

Konon Lamborghini penyebab kecelakaan ini sedang melakukan aksi balapan liar, kejar-kejaran dengan mobil sport yang tidak kalah mentereng, sebuah Ferrari berwarna merah yang kabarnya sampai sekarang belum teridentifikasi. Rupanya lengangnya jalanan di pagi-pagi buta ini dimanfaatkan segelintir orang-orang yang memiliki kelebihan materi untuk melakukan perbuatan tercela, balapan liar, tak ubahnya mereka yang dicap berandalan dan preman yang meggelar balapan liar dengan sepeda motor yang dimodifikasi apa adanya.

Sementara si pengemudi keluar dari mobilnya yang ringsek tanpa kesulitan berarti dan tanpa luka berarti. Bahkan beberapa hari kemudian publik melalui jaringan social media kembali dibuat geram dengan beredarnya foto-foto si pengemudi yang dalam kondisi sehat wal afiat cengengesan ber-selfie bersama teman-temannya. Sepertinya memang sistem keamanan dan keselamatan mobil super mahal ini memang sangat mumpuni.

Lucunya, dilansir salah satu situs berita, si pengemudi mengaku hanya memacu kendaraannya dengan kecepatan 80 kilometer per jam saja. Pastinya isapan jempol. Entah tipe Gallardo apa yang dikemudikannya, tapi paling tidak sebuah Lamborghini Gallardo memiliki mesin 5000cc, tenaga yang dihasilkannya di atas 500 daya kuda, dan sanggup dipacu hingga kecepatan lebih dari 300 kilometer per jam. Nah kalau mobil dengan tenaga seganas itu sedang berpacu melawan sebuah Ferrari yang sama-sama menggendong mesin bertenaga besar, apa iya hanya dipacu pada kecepatan 80 kilometer per jam. Belum lagi, mobil ini sangat ceper, sehingga untuk bisa meloncati trotoar, pastinya perlu kecepatan sangat tinggi.

Kecelakaan atau Pembunuhan

Sebagian orang melihat peristiwa ini kecelakaan. Sama kasusnya dengan peristiwa tewasnya sejumlah orang dalam kecelakaan tragis yang melibatkan anak musisi papan atas Achmad Dhani atau anak mantan pejabat tinggi dan politisi ternama Hatta Rajasa. Dianggap kecelakaan dan karenanya si pelaku bisa melenggang begitu saja hanya dengan kesediaan orang tuanya merogoh saku untuk memberikan sedikit santunan kepada keluarga korban.

Saya sendiri melihat peristiwa ini sebagai peristiwa pembunuhan. Memang mungkin si pengemudi tidak sengaja menabrakan mobil yang dikemudikannya ke arah gerombolan orang sehingga menimbulkan korban. Karena satu dan lain hal, si pengemudi gagal mengendalikan kendaraan yang dikemudikannya. Tetapi hal itu kemungkinan besar tidak akan terjadi, atau kalaupun terjadi efeknya tidak akan terlalu berat, jika kendaraan tidak dipacu dengan kecepatan sangat tinggi, melebihi apa yang boleh dilakukan di jalanan umum.

Jadi ini persoalannya. Mungkin memang tabrakannya sendiri bukan kesengajaan. Tetapi melakukan sesuatu yang memang berpotensi menyebabkan kejadian itu, itu jelas kesalahan yang disengaja. Dia memacu kendaraannya demikian cepat, berpacu dalam balapan liar, itu sesuatu yang disengaja dan disadari, dan semua orang waras sudah seharusnya menyadari resikonya. Kalau begitu apa benar-benar fair kejadian ini dianggap sebagai kecelakaan? Sama seperti misalnya saja sebuah truk yang terlibat kecelakaan karena rem-nya blong?

Kemacetan di Bandung Ternyata Luar Biasa

Sempat lama tinggal di Bandung membuat Ibu Kota Propinsi Jawa Barat ini serasa seperti kampung halaman kedua di samping kota kelahiran saya. Bahkan saya sebetulnya lebih merasa betah tinggal di Bandung daripada di kota tempat dimana saya dilahirkan dan kebanyakan keluarga dan kerabat tinggal sampai sekarang. Sayangnya jalan hidup membuat saya kemudian memilih tempat lain sebagai rumah, dan berkunjung ke Bandung hanya untuk sekedar jalan-jalan atau keperluan yang berhubungan dengan pekerjaan saja.

Berita mengenai kemacetan kota Bandung khususnya di sekitar weekend atau saat hari libur membuat saya memilih hari-hari “aman” untuk mngunjungi Bandung, sehingga kalaupun sekali-sekali terjebak macet, rasanya tidak terlalu parah. Kesempatan itupun juga tidak sering saya dapatkan, dalam setahun mungkin hanya sekali atau dua kali saja. Selain itu karena saya juga pernah bertahun-tahun mencicipi kemacetan Jakarta, sedikit-sedikit macet saat hari kerja di Bandung tidaklah cukup untuk membuat saya mengeluh.

Tapi kemarin, tepatnya hari Minggu malam di penutup weekend saya berkesempatan berkendara memasuki Kota Bandung dari arah Cirebon. Saat itu hari sudah cukup malam, sekitar jam 8 lewat-lewat sedikit. Tetapi kemacetan sudah menjebak bahkan dari seputaran Jatinangor, kawasan kampus yang berada di perbatasan antara Bandung dan Sumedang. Tadinya jarak yang saya fikir tinggal sedikit untuk mencapai mulut tol membuat jebakan kemacetan tidak akan berlangsung terlalu lama.

Salah besar ternyata. Setelah hampir 2 jam di tengah kemacetan akhirnya saya memilih untuk menepi dan beristirahat, berharap bahwa semakin malam kemacetan akan mulai terurai. Solusi sederhana, tidur di pom bensin.

Melihat jalanan di depan pom bensin lalu-lintasnya nampak sudah mulai normal, saya bergerak kembali, berharap bisa memasuki Kota Bandung dengan cukup cepat. Seratus meter, dua ratus meter, satu kilometer, saya mulai berfikir bahwa tebakan saya benar, lalu-lintas sudah lancar.

Ternyata saya tidak bisa menyimpan senyum lebar terlalu lama karena mendekati Cileunyi lalu-lintas kembali mulai tersendat dan akhirnya mulai terkunci lagi. Kemacetan tengah malam ini terjadi sampai ke gerbang tol. Alhasil memasuki kawasan Jatinangor sekitar jam 8-9, saya baru bisa mencapai Kota Bandung lewat tengah malam, sekitar jam 1 dini hari.

Ternyata kota yang tadinya saya kenal tenang dan bersahabat ini sudah tumbuh menjadi salah satu metropolitan dengan segala masalah yang menyertai atribut tersebut, itu tadi salah satunya, kemacetan yang ternyata tidak kalah dengan Ibu Kota Jakarta.

Jadi Apa Sebetulnya Faktor Penentu Kesuksesan Pengusaha?

Siapa yang tidak megenal sosok Bob Sadino? Kalau anda tidak mengenal sosok flamboyan yang satu itu, kemungkinan besar anda bukan pengusaha atau tidak punya ketertarikan untuk menjadi pengusaha. Bagaimana tidak, begitu banyak orang, termasuk para pengusaha papan atas, menganggap beliau bukan hanya seorang pengusaha yang sangat sukses tetapi juga seorang maestro yang sangat rajin menyebarkan virus entrepreneurship dan tidak pelit membagi segudang ilmu dan pengalaman yang dimilikinya.

Dari biografinya, disebutkan bahwa setelah melanglang buana sebagai seorang eksekutif perusahaan besar, Oom Bob kembali ke tanah air pada medio 1967 dan memulai kehidupan barunya bermodalkan dua buah Mercedes-Benz yang dioperasikannya sebagai taksi.

Singkat cerita, ternyata usaha taksi tersebut gagal total dan memaksanya banting setir, memulai sesuatu yang sama sekali baru. Memelihara 50 ayam petelur, Oom Bob dan istri kemudian menjajakan telur-telur produksinya dari pintu ke pintu. Ternyata itulah cikal bakal sukses besar Kem Chick yang kemudian disusul oleh perusahaan-perusahaan lain yang semuanya bergerak di bidang agribisnis yang mempekerjakan ribuan karyawan yang konon semuanya diperlakukannya seperti keluarga.

Begitulah Bob Sadino, gagal dengan bisnis taksi dan sukses memulai usaha baru dari berjualan telur ayam.

Adalah Mutiara Djokosoetono, seorang wanita yang merupakan istri dari perwira tinggi polisi yang bersahaja. Konon semasa suaminya masih hidup, Bu Djoko membantu suaminya dalam memenuhi kebutuhan keluarga dengan berdagang telur, mendatangkan telur dari sentra produksi di Jawa Tengah ke Jakarta. Keutuhan keluarga ini terkoyak saat suaminya meninggal pada akhir tahun 1965.

Tidak lama berselang, instansi tempat suaminya bekerja menghibahkan dua buah mobil, Opel dan Mercedes-Benz, yang kemudian dipergunakannya untuk menyambung hidup keluarga dengan mengoperasikannya sebagai taksi. Pada tahun 1970, kedua sedan itu sudah beranak pinak menjadi armada yang berjumlah 60 mobil. Sekarang, mungkin tidak banyak orang mengenal Mutiara Djokosoetono, tapi saat disebut Blue Bird, semua orang pasti dapat langsung mengasosiasikannya dengan armada taksi terbesar dan terbaik di tanah air.

Mutiara Djokosoetono tidak lagi berbisnis telur ayam dan memulai usaha taksi yang sukses besar.

Bagaimana mungkin Oom Bob dan Bu Djoko, pada medio yang kurang lebih sama, mengalami nasib yang sangat bertolak belakang. Meskipun pada akhirnya keduanya sama-sama berhasil mengembangkan usahanya menjadi raksasa yang disegani di tanah air, tetapi keduanya juga mengawalinya dengan kegagalan. Dan uniknya Oom Bob gagal bisnis taksi dan sukses dengan bisnis yang dimulainya dengan berdagang telur ayam. Sementara Bu Djoko menghentikan usaha berdagang telur ayam dan sukses dengan bisnis taksi.

Oom Bob gagal dengan taksi sukses dengan telur, Bu Djoko berhenti berdagang telur dan sukses dengan taksi. Keduanya bahkan memulai usahanya dengan jumlah mobil yang sama, dua unit.

Kisah kegagalan dan kemudian memulai usaha baru yang kemudian sukses tersebut terjadi pada medio yang kurang lebih sama, sehingga situasi dan kondisi saat itu tentunya kurang lebih sama. Apalagi keduanya juga memulai usahanya di lokasi yang sama, Jakarta. Kalau soal kepiawian mengelola dan aneka parameter lain yang konon dibutuhkan oleh seorang pengusaha untuk meraih sukses, kerja keras, pantang menyerah, dan lain-lain, tentunya keduanya juga sama. Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka bisa meraih sukses besar dengan bisnis baru yang dimulainya setelah jatuh dalam kegagalan?

Waktu yang kurang lebih sama, situasi dan kondisi kurang lebih sama, skala usaha kurang lebih sama, bahkan bidang usahanyapun sama, tapi ternyata kesuksesannya terbalik. Jadi apa sebetulnya faktor penentu kesuksesan pengusaha?

Ketangguhan sebagai pengusaha, sekali lagi, tidak perlu diragukan. Menyisihkan kegagalan sebelumnya, Oom Bob memulai usahanya dengan 50 ekor ayam dan berjualan dengan menjajakan sendiri, berjalan kaki, dari pintu ke pintu, sekarang Kem Chick menjelma menjadi kelompok usaha agribisnis raksasa yang tidak hanya menguasai pasar di dalam negeri untuk produk-produk yang dimilikinya, tetapi juga pasar di sejumlah negara lain. Bu Djoko memulai usahanya dengan dua unit mobil yang diterimanya sebagai pemberian, sekarang kelompok usaha Blue Bird menjadi taksi pilihan di sejumlah kota besar dengan armada yang entah berapa jumlahnya.

Jadi apa sebetulnya faktor penentu kesuksesan pengusaha?

Sudahkah Bahasa Indonesia Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri?

Pengalaman tadi malam benar-benar menggelitik fikiran saya dan sampai sekarang masih tetap berputar-putar di kepala. Diundang seorang teman makan malam di rumahnya, ada beberapa orang asing juga yang ikut ngumpul. Nggak berbanyak sih, dihitung-hitung kami hanya ber-8, dan dua diantaranya orang asing. Dua-duanya fasih berbahasa Indonesia, meskipun memang dengan logat sengau khas bule. Meskipun semua yang berkumpul punya penguasaan Bahasa Inggris yang cukup fasih, hampir semua obrolan mengalir dalam Bahasa Indonesia.

Biasa saja sih, nggak ada yang istimewa. Seperti biasa kongkow bersama, kadang-kadang obrolan ditimbrungi bersama, kadang-kadang ada yang seolah mojok dalam perbincangan sekelompok kecil. Lama-lama saya perhatikan kalau kedua bule ini terlibat percakapan sendiri, maksudnya percakapan hanya antara mereka berdua saja, mereka juga menggunakan Bahasa Indonesia. Karena menarik, semakin lama semakin intens saya memperhatikan, dan memang benar, tidak ada sepatahpun kata dalam Bahasa Inggris yang mereka pergunakan, bahkan saat mereka benar-benar ngobrol berdua sekalipun.

Yang satu bule warga negara Italia sedangkan yang satu lagi asal Austria. Memang kedua-duanya merupakan negara Eropa yang tidak menggunakan Bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari, tapi bagaimanapun Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional pastilah mereka kuasai jauh lebih baik dari Bahasa Indonesia.

Situasi yang sama sangat bertolak belakang dari kelompok-kelompok diskusi yang dulu kerap saya ikuti. Dengan alasan ada beberapa yang lulusan luar negeri dan karenanya lebih merasa nyaman berbahasa Inggris, sering kali diskusi hampir seluruhnya dilakukan dalam Bahasa Inggris, ya kecuali bisik-bisik perbincangan antara saya dan beberapa teman yang sama-sama katrok dan ndeso karena lebih memilih bicara dalam Bahasa Indonesia. Kalau terlibat perbincangan pribadi dengan mereka yang “sok British” ya paling banter “saling pengertian”-lah, saya bicara Bahasa Indonesia dia bicara Bahasa Inggris.

Kalo sudah begitu biasanya saya teringat anak-anak mantan bos saya dulu. Kebetulan keluarga itu berkewarganegaraan Jerman dan tinggal di Bandung. Di rumahnya ada beberapa pembantu, salah satunya diijinkan untuk tinggal bersama anaknya yang kebetulan sebaya dengan anak-anak si bos. Itu bule kecil yang belum masuk TK dengan fasih berbicara dalam Bahasa Jerman, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Sunda, dan hebatnya dia tahu harus menggunakan bahasa yang mana untuk berbicara dengan siapa, termasuk saat dia bertemu dengan orang yang belum pernah dia temui sebelumnya.

Dihubungkan dengan situasi terakhir di tanah air, dimana banyak orang protes dengan mengatakan bahwa Bahasa Indonesia tidak dijadikan tuan rumah di negeri sendiri, saya justru bingung. Lebay memang, tapi menurut saya mereka yang membuat saya bingung ini lebih lebay. Kenapa harus ribut, kenapa harus protes? Siapa yang membuat Bahasa Indonesia seperti tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri? Orang asing cenderung menggunakan Bahasa Indonesia disini, semantara orang Indonesia sendiri menggunakan Bahasa Inggris, bahkan saat berbicara dengan sesama orang Indonesia.

Meskipun sering kali disindir katrok dan ndeso oleh beberapa orang karena kengototan saya bicara dalam Bahasa Indonesia, biasanya sih saya nggak terlalu peduli, cukup nyengir aja. Meskipun akhirnya saya memilih tidak lagi berpartisipasi, bukan karena saya minder diejekin, justru sebaliknya, karena saya akhirnya berfikir kalau mereka bukan level sayalah. Soal bahasa, sama seperti mereka, saya bertahun-tahun tinggal di Eropa, kerja lho bukan sekedar kuliah seperti mereka. Soal menguasai Bahasa Inggris, nggak malu-maluin lah. Apalagi selama lebih dari 20 tahun saya berkarir di tanah airpun selalu di lingkungan institusi asing. Tapi kalau kita orang Indonesia, saat kita berada di Indonesia, berbicara dengan orang Indonesia, lalu bicaranya pake Bahasa Inggris, apa bukan kelewatan namanya?

Harley: Hobi atau Hedonisme

Kasus konvoy para penunggang Harley-Davidson yang dihentikan seseorang bersepeda ontel yang ramai menjadi pembicaraan di kalangan netizen membawa fikiran saya melihat dari sisi lain soal kegemaran sebagian orang berdompet tebal untuk ber-Harley. Pastilah berkantong tebal toh, kan harganya juga nggak murah. Konon perlu 4-5 unit mobil murah berkelas LCGC semacam Agya, Ayla, Wagon R, dll. untuk menebus satu motor kebanggaan negeri Paman Sam ini. Kalau ditebusnya dengan sepeda motor rakyat jelata seperti Yamaha Mio atau Honda Beat, entah perlu berapa, 50 biji kali.

Sebetulnya sih hegemoni kemapanan yang kemudian dikemas dengan apik dalam balutan “hobi” ini bukan hanya domain para pemilik Harley. Jenis-jenis kendaraan lain baik roda 2 atau roda 4 juga ya sama aja. Motor-motor besar berbeda merk seperti Ducati misalnya. Atau mobil-mobil sport mewah seperti Ferrari dan Lamborghini. Terus terang saya tidak melihat ber-Harley (atau ber-Ducati, ber-Ferrari, dll.) sebagai hobi, karena menurut saya itu tidak memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai hobi.

Hobi itu haruslah mengerjakan sesuatu. Hobi menyanyi, hobi melukis, hobi bermain sepak bola, hobi balapan, dll. Nah kalau ber-Harley, aktivitas yang dilakukan han sebetulnya melakukan perjalanan dengan sepeda motor. Tapi kan mereka yang punya Harley itu juga nggak mau toh kalo mengendarai motornya yang murahan. Jadi buat mereka titiknya bukan di bermotornya tapi di Harley-nya. Jadi sebetulnya hobi apa hedonisme? Karena titiknya bukan di aktivitas mengendarai sepeda motor tapi justru di sepeda motornya yang berharga aduhai.

Apa bisa dikategorikan ke dalam hobi otomotif? Entahlah. Dalam pikiran saya, namanya hobi otomotif itu juga melakukan sesuatu yang di atas rata-rata. Memodifikasi sehingga tampilannya menjadi lebih keren, menjadi lebih cepat, atau menjadi lebih tangguh di lintasan off-road misalnya. Melakukan sesuatu yang kemudian bisa kita banggakan, itu intinya. Kalo ber-Harley, ber-Ferrari, dll. kan bukan soal kita melakukan sesuatu yang di atas rata-rata, tapi soal memiliki sesuatu yang (harganya) di atas rata-rata. Jadi sebetulnya hobi apa hedonisme?

Hobi itu haruslah dilakukan dengan passion. Kita ingin terus menerus melakukannya. Kita ingin menjadi lebih baik. Mereka yang hobi memotret alias fotografi misalnya, dia selalu berusaha supaya hasil jepretannya semakin berkualitas. Mereka yang hobi balapan selalu berusaha lebih kencang dan mengukir kemenangan, entah menang dari lawan dalam perlombaan atau melawan catatan waktu sendiri. Nah kalau ber-Harley ini, apanya yang lebih baik? Bisa lebih kencang? Mana mungkin lha kemana-mana ngekor kawalan polisi. Satu-satunya peningkatan ya versi motor yang lebih mahal, atau mungkin jumlah motornya yang lebih banyak. Jadi sebetulnya hobi apa hedonisme?

Tapi pada akhirnya sih saya berbalik ngaca, menilik diri sendiri. Sebetulnya kepala saya bereaksi seperti ini apa bener-bener pandangan yang tulus? Jangan-jangan saya cuma sekedar “nyinyir” karena nggak kebeli Harley dan karena itu menjadi seolah-olah anti kemapanan. Ada ungkapan jalanan yang mengatakan “sirik tanda tak mampu”. Entahlah. Tapi kan ini blog saya sendiri, tempat mencurahkan pikiran saya sendiri. Bebas dong. Kalo ada yang kesentil, ya salah sendiri baca.

 

Mencintai Kopi

Mencintai sesuatu yang manis mungkin mudah-mudah saja. Tapi mencintai yang pahit pastinya lain lagi ceritanya. Banyak orang Indonesia mencintai kopi, tapi kebanyakan orang menaburkan bersendok-sendok gula ke dalam cangkir kopinya untuk menutupi rasa pahit dengan rasa manis. Lalu kenapa nggak minum air gula saja? Manusia kadang memang aneh.

Filosofi Kopi

Dalam rasa pahit kopi tersembunyi sejuta rasa nikmat. Coba saja minum kopi tanpa gula perlahan. Ditahan di mulut jangan langsung ditelan. Dirasakan perlahan di lidah. Ada sensasi rasa manis yang tersembunyi di balik rasa pahitnya. Filosofi kopi ini mirip dengan kehidupan. Kita bisa merasakan kebahagiaan hakiki saat kita bisa menemukan rasa manis yang tersembunyi di balik tumpukan pengalaman pahit.