Kopi

Home/Kopi

Kopi Manual Brew di J.CO Denpasar

Sebagai penggemar kopi single origin yang disajikan dengan teknik manual brew, saya memang cenderung menghindari kedai-kedai kopi modern yang cenderung menggunakan mesin kopi modern untuk menyajikan kopi ala barat yang kebanyakan menambahkan susu. Bukan karena saya mendekati vegetarianisme kalau saya menghindari susu di dalam kopi, tapi lebih ke selera dimana saya memang lebih suka menikmati rasa murni dari kopi itu sendiri, tanpa diembel-embeli bahan lain, termasuk gurihnya susu. Bahkan gulapun hampir tidak pernah saya bubuhkan. Bukan karena saya menghindari resiko diabetes, tapi lagi-lagi karena rasa dan aroma gula mengganggu kemurnian rasa dan aroma kopi itu sendiri.

Tapi memang itu tidak selalu bisa dilakukan, terutama kalau hanging out dengan orang lain, tidak sendirian. Entah dengan pasangan, teman, relasi, atau siapapun lah. Kompromi soal pilihan, saya memang cenderung memilih untuk toleran. Jadi kalau dia atau mereka menginginkan untuk mampir ke kedai kopi yang melenceng dari selera saya sendiri, ya nggak apa-apa, ngikut saja. Biasanya saya kemudian memilih kopi yang setidaknya tidak dicampur susu atau apapun bahan lainnya, ya pastinya kecuali air. Biasanya nggak jauh-jauh sih, kalau bukan espresso ya long black atau americano.

Kali ini saya diajak mampir ke J.CO. Bukan karena kopinya sebetulnya, tapi entah mengapa pasangan saya katanya pengen donat. Bukan penggemar donat, entah J.CO atau apapun, saya memilih alakadarnya, daripada nggak. Sementara untuk pilihan kopi, saya memang sudah siap untuk memilih diantara pilihan-pilihan biasa saat saya masuk ke kedai kopi modern. Ada beberapa kedai kopi modern yang menyajikan kopi single origin yang diseduh dengan teknik manual brew, tapi seingat saya J.CO bukan salah satunya.

J.CO Punya Kopi Manual Brew

Tapi memang dari kejauhan saat memilih donat, di kejauhan di bagian penyajian kopi saya melihat dua buah corong keramik yang cukup saya kenal, alat penyeduh kopi manual brew yang dikenal dengan v-60. Tentu saja saat saya mendekat ke bagian itu untuk memesan kopi, saya langsung tanya dan ternyata benar, sekarang J.CO menyediakan kopi yang diseduh secara manual dengan v-60. Nggak pake banyak tanya lagi dong, pesan yang itu. Memang ternyata v-60 merupakan satu-satunya kopi manual brew yang tersedia disitu. Yang lain-lain entah aeropress, sifon, dan sebagainya nggak ada.

Tapi tidak apa-apalah …

Sayangnya ternyata selain tidak menyediakan banyak variasi teknik kopi manual brew, mereka juga tidak menyediakan banyak pilihan biji kopi. Hanya ada satu-satunya dan itupun tidak benar-benar sesuai dengan selera saya, Colombian Supremo. Namanya yang mentereng tidak cukup untuk membuat saya tertarik sebetulnya. Saya lebih suka varietas-varietas kopi dari tanah air. Tapi ya apa boleh buat lah. Pasrah saja, satu v-60 Colombian Supremo.

Ternyata saat nama saya dipanggil pertanda kopi pesanan saya sudah siap, saya agak kaget dengan penyajiannya yang tidak biasa. Alih-alih menggunakan cangkir atau gelas kaca, kopi pesanan saya tersaji dalam gelas kertas standar J.CO yang ukurannya relatif besar dibandingkan dengan cangir atau gelas kopi biasa. “Tak apa-apalah”, saya pikir dalam hati. Lumayan kan, anggap aja pesan satu dapat dua cangkir sekaligus. Lalu bagaimana pengalaman rasanya. Seperti perkiraan, miskin rasa, beda dengan varietas biji kopi tanah air memang. Selain itu saya memang agak meragukan ketelitian proses penyeduhan yang membuat rasanya cenderung hambar.

Lumayan lah kalau dibandingkan memilih espresso, long black, atau americano. Tapi kalau dibandingkan dengan kopi manual brew pada umumnya, nilainya rendah sih.

Kopi Unik di Hawaiian Bistro

Berputar-putar di Discovery Shopping Mall mencari-cari yang tidak ada ternyata lumayan melelahkan. Berjalan ke arah teras belakang dimana terdapat plaza luas menghadap pantai untuk sekedar melepas lelah dengan duduk-duduk di anak tangga sambil memandangi keindahan pantai kuta yang legendaris itu. Sayangnya mendekati gerbang nampak keramaian banyak orang masuk bersamaan, agak berdesak-desakan. Ternyata hujan mendadak turun cukup deras. Memang dari sejak meluncur di perjalanan menuju kawasan Kuta awan berat nampak menyelimuti langit.

Rencana berubah. Mencari tempat nongkrong di dalam mall saja. Masih agak sore, belum waktunya makan malam. Sementara hujan membuat ruangan mall yang ber-AC terasa semakin dingin. Apalagi kombinasi sempurna antara hujan di luar, udara dingin, dan badan yang agak lelah membuat mata terasa agak berat. Jadi sepertinya cukup jelas apa yang harus dicari … kopi.

Jadi mulailah pencarian kopi. Sayangnya sebagai penggemar kopi otentik saya sangat fanatik dengan kopi single origin yang diproses dengan cara tradisional. Kalaupun dibuat dengan mesin modern, setidaknya kopinya harus single origin dan tidak ada campur-campuran aneh-aneh yang membuat namanya ikutan aneh pula. Cappuccino, latte, macchiato, entah apa lagi. Gimana nggak aneh-aneh itu nama. Bahkan saya tidak benar-benar tahu persis tulisan yang benar. Huruf mana saja yang double dari nama-nama itu.

Gerai kopi modern yang saya tau menawarkan single origin ternyata tidak memiliki outlet di mall ini. Yang ada Starbucks, kedai kopi ala Amrik yang (menurut saya) rasanya tidak seberapa tapi harganya seberapa banget. Tidak bisa menerima campuran susu pada kopi, dalam menu Starbucks yang bisa saya terima hanya Americano. Nah kopi yang satu ini menurut lidah saya nggak enak luar biasa. Nggak cuma di Starbucks sih, saya memang gak suka Americano, encer gak ada rasanya. Entah kenapa orang Amrik koq doyan. Eh iya kan ya itu kopi dari sono makanya namanya Americano?

Akhirnya sepertinya pilihan mulai bergeser. Sedikit makanan ringan plus minuman hangat, bukan kopi pun nggak apa-apa. Maka terdamparlah kami di Hawaiian Bistro, yang lokasinya memang berada persis di pintu belakang DSM, menghadap pantai. Lumayan, bisa sambil menikmati pemandangan rintik hujan yang jadi nampak seperti tirai dengan background lautan yang juga nampak gelap karena memang cuacanya sedang hujan.

Membolak-balik menu dan memilih makanan, ternyata ada juga kopi. Tapi sayangnya kopinya kopi model-model yang saya sebut aneh-aneh tadi. Kadung aneh akhirnya mata saya tertuju pada sajian yang justru lebih aneh lagi. Berada di luar kelompok kopi, dari penjelasannya sangat jelas sejelas-jelasnya bahwa dia mengandung kopi. Ah tapi dingin itu menu, disebut pake es krim. Sangat bertentangan dengan gagasan awal, mencari kehangatan. Tapi akhirnya saya menyerah kalah, memutuskan memanjakan rasa penasaran saya dengan keanehannya.

Berdasarkan penjelasan di menu, kopi ini tidak diminum. Karena kopinya merupakan espresso yang berbentuk jelly alih-alih cair. Konon kemudian ditambahkan es krim di atasnya lalu dituangi kahlua. Kahlua ini minuman beralkohol asal Meksiko. Entah dari mana datangnya ini menu. Nama restorannya Hawaiian Bistro, tapi menu yang satu ini nggak ada hawai-hawainya sama sekali. Espresso mestinya sih datangnya dari Itali. Sementara kahlua dari meksiko. Es krim? Rasanya sih es krim dimana-mana ada. Tapi ya sudahlah, entah darimanapun asal enak ya gak apa-apa.

Lalu datanglah menu yang dipesan ini setelah menunggu sekitar 10 menitan. Persis seperti foto. Disajikan di gelas segi tiga, seperti gelas untuk minuman martini tetapi tanpa kaki. Atau kakinya nggak panjang tapi pendek dan tebal. Kalo kata emak-emak mah ini bukan high heel tapi wedges. Setengahnya berisi kopi, atau bahan berwarna seperti kopi. Diatasnya ditaro satu scoop es krim berwarna putih krem. Bulatan es krimnya tidak sebesar permukaan kopinya, jadi ada ruang kosong yang diisi cairan kental dengan warna yang sama dengan es krimnya. Setelah dicicipi ternyata campuran lelehan eskrim dan kahlua. Top of the top, setangkai kecil pucuk mint nancep di atas es krim.

Entah rasa apa es krimnya. Mungkin vanilla atau karamel. Mungkin sengaja dipilih yang netral supaya tidak mengganggu rasa dan aroma kopinya. Bayangkan saja kalo yang dipake es krim stroberi. Selain rasanya nggak nyambung, wangi kopinya mungkin akan hilang, warnanya yang pastinya pink gak akan pantes nempel di warna coklat kopi.

Pertama dicoba rasa es krimnya. Lalu campuran es krim dan kahlaua … enak. Ditekan lebih dalam sendok bertemu dengan sesuatu yang padat. Baru ingat kalau kopinya memang tidak cair tapi berbentuk jelly. Tapi dirasa-rasa sepertinya agak kurang cocok disebut jelly. Lebih keras dari jelly. Lebih mirip agar-agar atau mungkin pudding. Dicoba jelly kopinya saja, rasa dan aroma kopinya sangat kuat. Confirmed kalau ini espresso, keras, nendang. Rasanya pahit. Sepertinya sengaja dibuat pahit, tanpa gula. Rasa manisnya muncul ketika disendok bercampur dengan es krim.

Kombinasi manis dan dinginnya es krim, gurihnya kahlua, dan pahitnya kopi ternyata menimbulkan sensasi yang luar biasa. Enak benerrr. Saya nggak suka es krim, saya nggak suka espresso, dan kalo bicara minuman beralkohol saya juga nggak sengajain minum kahlua. Tapi ternyata digabungkan rasanya enak pake banget.

Sayangnya … namanya lupa.

Say No to Kopi Luwak

Kegemaran saya terhadap kopi luwak bermula dari film romantis Something’s Gotta Give yang beredar pada tahun 2003, artinya 13 tahun yang lalu. Di film tersebut tokoh utama pria Jack Nicholson digambarkan memiliki kebiasaan kesana kemari membawa termos yang katanya berisi kopi kegemarannya, kopi luwak, yang katanya dari Indonesia dan harganya sangat mahal. Sebagai penggemar kopi, selesai nonton saya langsung kebat-kebet internet mencari referensi. Meskipun belum sehebat sekarang, informasi di dunia maya saat itupun sudah cukup untuk memberi saya pencerahan mengenai kopi luwak. Hanya saja untuk mencoba perlu waktu cukup lama karena kenyataan bahwa biji kopi luwak dipungut dari kotoran hewan bukanlah sesuatu yang mudah diterima. Selain itu, saat itu kopi luwak juga tidak begitu mudah ditemukan. Baru sekitar 2 tahun kemudian saya memberanikan diri mencicipi kopi luwak, di sebuah kedai hotel terkemuka di Singapura. Harganya bukan hanya sekedar lumayan, tapi saya tidak kaget karena dari informasi yang cukup lama saya kumpulkan saya tahu kisaran harganya.

Rasanya yang lembut dan cenderung manis langsung membuat lidah saya jatuh hati. Rasa manis ini mungkin memang tidak bisa dirasakan oleh mereka yang biasa menikmati kopi yang bercampur gula, karena rasa manis yang sangat samar pada kopi luwak pastinya tidak semanis gula. Sedikit tambahan gula sudah akan menghilangkan rasa manis alami khas kopi luwak ini. Tapi rasa manis ini berbeda dengan rasa manis gula. Dengan menambahkan sedikit sekali gula pada kopi biasa kita bisa menemukan tingkat kemanisan yang sama dengan kopi luwak, tapi rasa manisnya beda. Selain itu kopi luwak sangat lembut, tidak “nendang” seperti kebanyakan kopi biasa. Rasa yang lembut dan tingkat keasaman yang sangat rendah karena sudah terfermentasi di dalam perut luwak membuat saya bisa menikmati kopi ini sebanyak yang saya mau. Batasannya bukan lagi “tidak bisa minum kopi terlalu banyak” tapi justru karena harganya yang “nendang”.

Sepulang dari perjalanan itu saya semakin bersemangat mencari dan akhirnya menemukan satu tempat di Bali yang menjual kopi luwak dengan harga relatif murah. Untuk menikmati secangkir kopi luwak hanya perlu membayar 50 ribu rupiah saja, hampir sepersepuluh harga yang harus saya bayar di Singapura. Ada juga kopi luwak dalam bentuk biji dan bubuk yang dijual dengan harga hanya 150 ribu rupiah per 100 gram. Sangat mahal untuk ukuran kopi, tapi sangat murah dibandingkan harga kopi luwak di pasar internasional. Sejak itu saya tidak minum kopi luwak hanya kalau saya sedang dalam perjalanan. Di rumah, di kantor, tidak ada kopi lain selain kopi luwak. Relasi, teman, sahabat, yang datang berkunjung, selalu saya suguhi kopi kegemaran saya itu, meskipun memang ada sebagian yang menolak. Kopi luwak juga menjadi pilihan praktis buah tangan saat saya bertemu dengan relasi bisnis di luar negeri. Jauh lebih mudah dibawa, lebih murah, dan tetap cukup berkesan dibanding membawa patung Bali misalnya.

Sayang mahalnya komoditas kopi luwak membuat manusia mulai lupa diri. Mereka tidak lagi hanya memungut kotoran luwak yang berserakan di atas tanah di kebun-kebun kopi, tetapi memproduksinya dalam skala komersial. Luwak-luwak ditangkap dan dikandangkan. Di dalam kandang sempit yang mereka tempati, setiap hari diberikan sejumlah besar biji kopi untuk dimakan sehingga keesokan harinya mereka bisa memungut kotoran yang mengandung biji kopi di lantai kandang. Luwak yang tadinya merupakan hewan liar yang hidup di alam bebas, berpindah-pindah antara perkebunan kopi dan hutan di sekitarnya, harus menghabiskan sisa hidupnya di dalam kandang sempit, hanya supaya manusia yang menangkapnya bisa mendapat uang lebih banyak. Tidak sampai disitu, setelah luwak liar semakin langka untuk ditangkap dan diperdagangkan, mulailah muncul upaya penangkaran luwak. Tentunya luwak-luwak hasil tangkaran ini dari sejak lahir sampai mati hanya mengenal kandang sempit.

Dari sisi kehidupan, sebagai hewan liar tentu dikandangkan bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Tapi bagi luwak-luwak ini, penderitaannya tidak hanya sampai disitu. Mereka dipaksa untuk memakan kopi sebanyak-banyaknya supaya menghasilkan kopi luwak sebanyak-banyaknya pula. Seperti di alam bebas, luwak memang tidak hanya memakan biji kopi, tetapi juga bahan makanan lainnya. Di dalam kandang, makanan mereka juga dikombinasikan, tidak hanya biji kopi saja. Tapi, dari obrolan ringan dengan beberapa produsen kopi luwak, mereka memang mengatur sedemikian rupa kombinasi makanan ini. Makan selain kopi diberikan sangat terbatas supaya produksi kopi luwaknya optimal.

Mungkin memang masih ada kopi luwak yang didapat secara alami. Tapi jumlahnya pastinya semakin menipis karena luwak liar ditangkapi untuk dikandangkan. Ada produsen kopi luwak yang mengklaim bahwa mereka tidak mengandangkan luwaknya tetapi membuat kubah-kubah besar untuk menutupi kebun kopi dimana setiap kubah menaungi ratusan meter persegi kebun kopi lengkap dengan beberapa ekor luwak. Sedikit lebih baik daripada memasukkan luwak ke dalam kandang-kandang kecil, tapi tetap saja mereka tidak memiliki kebebasan seutuhnya. Kecuali mungkin kalau si produsen membuat kubah yang luas dalamnya ratusan hektar meliputi perkebunan kopi dan hutan alami. Bahkan sebuah pusat produksi kopi luwak yang mengaku memperlakukan luwaknya secara alami di Bandung Utara yang pernah saya kunjungi pun ternyata tetap saja mengandangkan luwak-luwaknya.

Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk menolong luwak-luwak tersebut. Hukum di negeri ini memang mengatur bahwa hewan merupakan hak milik absolut. Selama hewan tersebut tidak termasuk kategori dilindungi, mau diapakan-pun tidak melanggar hukum. Toh kuda-pun setiap hari disuruh kerja, dipecut kalau tidak mau bekerja, dan kalau sudah tua dan tidak bisa bekerja kemudian disembelih, sah-sah saja. Tapi setidaknya saya tidak mau menjadi bagian dari penyebab kesengsaraan hewan-hewan itu. Karena itu saya memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi kopi luwak. Say no to kopi luwak.

Saya Pecinta Kopi Indonesia

Sebagai penggemar kopi, salah satu hal yang menarik buat saya adalah mencoba warung kopi baru. Banyak orang memilih bahasa modern, coffee shop. Ya terserah sajalah. Tapi sebagai orang desa saya masih lebih memilih menggunakan istilah warung kopi.

Selain warungnya, cara penyajian kopi yang semakin berbeda-beda juga sangat menarik perhatian saja. Dari yang “hard core” seperti kopi joss khas Jogja yang dicemplungi arang panas sampai teknik-teknik yang datang dari luar negeri seperti French press atau aeropress misalnya. Akhir-akhir ini yang membuat saya kesengsem adalah teknik penyajian kopi cold brew.

Yang lebih menarik dari menemukan warung kopi baru maupun teknik penyajian baru, ada juga. Menemukan varietas kopi baru. Mungkin nggak 100% tepat menyebut varietas kopi baru sih, mungkin lebih tepat kopi yang ditanam di tempat tertentu yang sebelumnya belum pernah saya cicipi. Misalnya saja, kopi asal Flores yang cukup terkenal berasal dari Bajawa. Tapi baru-baru ini saya mencicipi kopi yang datang dari daerah lain di Flores, Mangulewa Golewa, dan rasanya ternyata benar-benar beda.

Contoh lain, salah satu varietas kopi yang saya sukai adalah kopi asal daerah Kalosi di Toraja. Tapi baru-baru ini saya diperkenalkan dengan kopi asal daerah lain yang sama-sama di kawasan Toraja, Mengkendek. Rasanya luar biasa. Lagi-lagi, rasanya benar-benar beda.

Itu salah satu sisi menarik dari kopi, setiap daereh, entah karena cara kultivasi, iklim, atau mungkin struktur mineral tanahnya, menghasilkan rasa kopi yang berbeda. Ini yang menarik juga tapi sih.

Mungkin memang hanya mereka yang benar-benar mencintai kopi yang bias merasakan perbedaanya. Karena perbedaan tersebut memang sangatlah tipis dan perlu dicicipi dengan sangat seksama di lidah. Perlu jam terbang penggemar kopi cukup tinggi untuk bias memilah unsur rasa yang tersembunyi di balik rasa pahit yang dominan.

Saya Hanya Suka Kopi Single Origin

Saya tidak suka kopi dicampur-campur. Dicampur antara kopi yang datang dari beberapa daerah. Dicampur antara robusta dan Arabica. Dicampur dengan bahan-bahan lain seperti susu, krim, rempah, atau apapun lagi. Saya bahkan tidak suka kopi yang dicampur dengan gula.

Saya lebih menyukai rasa asli yang masih bisa saya cicipi, bukan rasa yang nggak jelas datangnya darimana. Kalau dicampur antara 2 jenis kopi, kita tidak tahu lagi misalnya cita rasa kayu yang mampir di lidah datangnya dari mana. Bahkan banyak jenis kopi memiliki rasa manis yang luar basa nikmat samar-samar tersembunyi di balik dominasi rasa pahitnya. Kalau kopi dicampur gula, rasa itu hilang sudah, karena rasa manis gula yang biasa-biasa tapi manisnya luar biasa sangat mendominasi dan menghilangkan unsur manis dari rasa kopinya itu sendiri.

Saya juga hanya kalau benar-benar terpaksa saja mau minum kopi yang disajikan ala Italia atau entah dari negara mana lagi datangnya semacam cappuccino, latte, dan lain-lain yang kebanyakan memadukan kopi dengan olahan susu. Pertama saya memang tidak mengkonsumsi bahan-bahan hewani termasuk susu. Tapi yang lebih penting adalah kopi juga memiliki unsur gurih yang sangat nyaman di lidah yang sangat lembut karena tersamarkan dengan rasa pahit yang lebih dominan. Rasa gurih ini tertelan oleh susu yang memang sangat gurih.

Sederhana saja sih, kalau memang mau menikmati rasa gurih yang menohok, bukan yang lembut tersamar, ya minum segelas susu saja. Atau kunyah sepotong steak.

Saya Hanya Suka Kopi Indonesia

Ada banyak negara lain yang juga menghasilkan kopi. Bahkan sejatinya konon kopi memang bukan tanaman asli Indonesia, melainkan didatangkan pada masa penjajahan. Jadi tidak heran kalau kita juga banyak mendapati kopi yang berasal dari banyak negara lain. Sejumlah negara di Amerika Selatan seperti Brazil dan Colombia misalnya, merupakan negara penghasil kopi terkemuka dunia. Tentunya kualitasnya juga tidak kalah bagus.

Saya sering kali mencicipi kopi-kopi impor ini, atas nama rasa ingin tahu. Atau saat saya ada perjalanan ke luar negeri, tentunya daripada mencari-cari kopi Indonesia, saya justru sengaja mencari kopi asal negara tersebut. Sesama kawasan tropis, kebanyakan negara di Asia Tenggara juga menghasilkan kopi.

Bagi saya, kopi bukan hanya sekedar kegemaran tetapi kebutuhan. Kalau tubuh saya tidak kemasukan cafein dari kopi di pagi hari, sepanjang hari badan akan terasa agak lemas sehingga aktivitas tidak optimal. Jadi saat travelling, biasanya saya memang terpaksa meminum apapun kopi yang tersedia di hotel di pagi hari. Tapi entah siang atau malam biasanya saya menyempatkan diri untuk mencari kopi yang lebih “berkualitas”.

Tapi pada akhirnya konsumsi kopi “luar” memang tetap berujung di rasa ingin tahu dan kebutuhan sesaat saja. Pada akhirnya saya memang hanya menyukai kopi-kopi asal Indonesia. Saya hanya mencintai kopi Indonesia.

Kedaiku Disini, Kedai Kopi di Jimbaran

Sebagai pusat pariwisata dunia, mencari kedai kopi di Bali tidaklah susah. Selain tempat yang memang khusus dihadirkan sebagai kedai kopi, tempat-tempat lain seperti restoran dan cafe juga pastinya menyajikan kopi. Belum lagi jaringan kedai kopi baik yang internasional maupun lokal seperti Starbucks, The Coffee Bean & Tea Shop, Expresso, dan banyak lagi yang lainnya yang seolah berlomba-lomba mengisi ceruk kecil pasar penggemar kopi enak di Bali.

Maklum, meskipun kecil, Bali memang dipenuhi kaum yang terbiasa menikmati kopi di luar rumah. Orang asing, selain wisatawan juga ada banyak ekspatriat, orang asing yang memilih untuk menjadikan Bali tidak hanya tempat liburan tetapi tempat tinggal permanen. Wisatawan domestik dan kaum profesional yang kebanyakan bekerja di bidang pariwisata. Dan tentunya masyarakat Bali yang meskipun memegang teguh tradisi tetapi juga sangat adaptif dengan gaya hidup yang dibawa oleh para pendatang.

Tapi sudah menjadi rahasia umum juga, harga yang mereka tetapkan juga lumayan menguras kantong. Sekali-sekali bolehlah. Tapi kalau tiap hari apalagi beberapa kali sehari, meskipun dompet anda mungkin lumayan tebal, ujung-ujungnya menjerit juga. Meskipun kebanyakan kedai kopi di Bali mungkin menyasar orang asing, tetap saja, sedalam-dalam sumur tetap ada dasarnya.

Buat saya yang kebetulan punya lidah kampung, ada lagi masalah lain. Saya kurang suka kopi “modern” meskipun mungkin bisa mendongkrak gaya. Alih-alih espresso, cappuccino, latte, macchiato, dan entah nama berbau Italia lain, saya lebih suka kopi tubruk. Daripada kopi Jamaica, Colombia, Brazil, dan negara-negara tropis lain saya lebih suka kopi Bali, kopi Toraja, atau kopi dari daerah-daerah penghasil kopi lain di tanah air. Rasanya masing-masing daerah, dari Sabang sampai Merauke punya kopi khas masing-masing. Sebut saja Kopi Aceh dari Dataran Tinggi Gayo dan Kopi Papua dari Wamena.

Kalau anda punya selera dan ukuran dompet yang kurang lebih sama dengan saya dan sedang berada di seputaran Jimbaran, ada satu kedai kopi di Jimbaran yang menawarkan kopi enak dan murah. Kopi tradisional, disajikan dengan cara tradisional. Bahkan sampai cangkir yang dipakai untuk menyajikannyapun bergaya tradisional alias jadul. Bukan cangkir porselen China lengkap dengan piring kecil yang senada sebagai alasnya, tapi cangkir kaleng yang ternyata cocok dengan mejanya dan perabot lain yang sepertinya memang sengaja diberi kesan jadul.

Nama kedai kopi di Jimbaran yang satu ini juga tidak kalah unik, Kedaiku Disini. Lokasinya lumayan juga, karena berada di sebuah pusat perbelanjaan alias mall. Tapi nggak keren-keren amat sih, karena meskipun di mall, dia berada di teras, bahasa yang lebih memelasnya sih emperan. Nggak separah itu tapi. Kalo emperan kesannya kan sempit, ini cukup luas dan nyaman. Meskipun nggak kebagian AC karena berada di sisi luar mall, cukup nyaman karena berhadapan dengan lapangan parkir yang luas dan meskipun berpaving tapi ada banyak pohon rindangnya.

Tidak ada pilihan macam-macam, hanya kopi (hitam) dan kopi susu. Keduanya disajikan dalam cangkir kaleng yang isinya sepertinya sama saja dengan cangkir kopi biasa. Untuk menemaninya ada banyak sajian sederhana, dari banana fritter alias pisang goreng sampai calamari ring alias cumi-cumi goreng tepung. Rasanya standar-standar saja, dan sialnya lebih banyak “maaf sedang kosong”-nya. Kalau anda termasuk yang agak “tegaan”, sebetuknya sih mendingan pesen kopi saja. Cuma memang dengan harganya yang tidak sampai 10 ribu rupiah, rasanya memang “pelit amat”.

Benoa Square ini letaknya di Jalan ByPass Ngurah Rai menuju Nusa Dua, tepatnya persis di lampu merah menuju kawasan Kedonganan yang populer sebagai tempat nongkrong menikmati sunset sekaligus sajian seafood bakar yang sangat populer di kalangan wisatawan.

Mencintai Kopi

Mencintai sesuatu yang manis mungkin mudah-mudah saja. Tapi mencintai yang pahit pastinya lain lagi ceritanya. Banyak orang Indonesia mencintai kopi, tapi kebanyakan orang menaburkan bersendok-sendok gula ke dalam cangkir kopinya untuk menutupi rasa pahit dengan rasa manis. Lalu kenapa nggak minum air gula saja? Manusia kadang memang aneh.

Filosofi Kopi

Dalam rasa pahit kopi tersembunyi sejuta rasa nikmat. Coba saja minum kopi tanpa gula perlahan. Ditahan di mulut jangan langsung ditelan. Dirasakan perlahan di lidah. Ada sensasi rasa manis yang tersembunyi di balik rasa pahitnya. Filosofi kopi ini mirip dengan kehidupan. Kita bisa merasakan kebahagiaan hakiki saat kita bisa menemukan rasa manis yang tersembunyi di balik tumpukan pengalaman pahit.