Curcol

Home/Curcol

Reformasi Ritual Pagi

Sudah cukup lama saya merasa tidak nyaman dengan aktivitas sehari-hari. Bangun siang, beraktivitas kadang-kadang sampai lewat tengah malam, tidur telat, dan besoknya kembali ke siklus yang sama, bangun siang. Saya sangat tahu, banyak sekali orang yang memiliki siklus yang sama. Apalagi saya tinggal di Bali, apalagi saya juga punya banyak teman dan relasi bule. Selewat memang rasanya biasa banget sih, nggak ada yang salah, nggak ada masalah.

Alasan saya merasa nggak nyaman banyak. Sebut beberapa saja. (1) Saya sering merasa badan saya lelah nggak jelas. (2) Saya kesulitan berkonsentrasi saat melakukan hal-hal yang menuntut saya untuk berfikir. (3) Saya merasa waktu berkualitas untuk diri sendiri, pasangan, teman, semakin berkurang baik kuantitas dan kualitasnya. (4) Saya merasa waktu untuk beribadah dan membangun ketenangan batin hampir tidak ada.

Maka sejak kemarin saya mulai pemanasan, membiasakan diri. Rencananya mulai awal bulan depan ini saya harus sudah menggunakan ritual yang baru untuk keseharian saya. Kurang lebih jadwalnya seperti ini. Bangun jam 3 subuh langsung Shalat Tahajud dll. Dilanjutkan kerja sampai saatnya Shalat Subuh. Setelah Shalat Subuh disambung meditasi, lanjut dengan pekerjaan lagi sampai jam 8. Mandi dan lain-lain, Shalat Dhuha, sarapan, dan hari yang baru pun dimulai, dengan aktivitas rutin yang lebih banyak di luar rumah.

Siang hari setelah Shalat Dhuhur dan makan siang saya sempatkan untuk tidur siang sekitar 20-30 menit. Aktivitas sehari-hari saya usahakan dibatasi sampai jam 10 malam saja, disambung santai dengan buku. Tidur tidak boleh lebih dari tengah malam. Toleransi waktu antara jam 10 sampai tengah malam untuk jaga-jaga, kalau-kalau sekali-sekali tidak bisa menghindari aktivitas sampai larut malam.

Sepertinya sangat ideal. Bukan hanya Agama Islam yang mengajarkan keutamaan sepertiga malam yang terakhir. Agama-agama lainpun sepertinya mengajarkan bangun awal dan memulai hari lebih awal. Jadi ya kombinasi antara ajaran agama dan logika lah, toh sebetulnya apa yang diatur oleh agama, lama-kelamaan biasanya kemudian ada bukti ilmiah yang mendukung kebenarannya.

Beberapa hari sudah berjalan ini, ternyata perkiraan saya meleset. Tadinya saya kira akan sulit, akan berat, akan malas. Saya sudah siap dengan komitmen untuk memaksa diri sampai terbiasa, tapi tetap saja saya fikir akan berat. Ternyata biasa-biasa saja tuh. Hanya bangun memang masih perlu dibantu alarm. Tapi ternyata bangun mengikuti alarm jam 3 pagi itu lebih mudah daripada bangun mengikuti alarm jam 9 atau jam 10 pagi misalnya, seperti yang sebelumnya saya biasa lakukan. Wudhu dan mandi juga biasa saja, meskipun saya nggak punya air panas.

Manfaatnya mulai terasa bahkan meskipun baru dicoba beberapa hari. Yang jelas bekerja saat udara sejuk dan lingkungan tenang membuat saya sangat mudah berkonsentrasi. Beberapa jam bekerja dini hari ternyata sangat efektif. Lebih cepat dan lebih baik hasilnya. Sementara alih-alih ngantuk saat melakukan aktivitas siang hari, justru badan terasa lebih segar sepanjang hari.

Ah mudah-mudahan bisa menjaga ritual seperti ini terus, nggak hangat-hangat tahi ayam. Semangat untuk memulai tapi semakin lama semakin toleran dengan penyimpangan dan akhirnya tanpa sadar sudah nyasar entah kemana saking menyimpangnya.

Terjebak Rempeyek Teri

Sudah beberapa tahun ini saya tidak lagi makan daging. Meskipun demikian saya tidak bisa digolongkan sebagai vegetarian apalagi vegan, karena selama ini saya masih makan ikan dan sejenisnya, baik yang hidup di air tawar maupun laut. Salah satu alasan saya memilih untuk tidak makan daging sederhana saja, saya tidak merasa berhak menyakiti dan menghilangkan nyawa makhluk Tuhan lain hanya sekedar untuk mengisi perut. Kalau banyak orang dengan suntikan saja takut, bagaimana rasanya seekor hewan disembelih.

Sayangnya selama ini saya masih makan ikan. Tapi sebetulnya makan ikan itu juga membuat saya merasa bersalah setiap memakannya, karena saya tahu bahwa kematian ikan itu sebetulnya tidak kalah menyakitkan daripada sapi atau ayam yang disembelih. Ikan memerlukan air sama dengan manusia memerlukan oksigen. Jadi ikan yang diangkat dari air kematiannya sama menyakitkannya dengan manusia yang mati tenggelam, atau ditenggelamkan tepatnya, karena ikan-ikan itu bukan karena kecelakaan apalagi kemauan sendiri keluar dari air.

Kali ini atas nama menghindari memakan ikan, saya memilih tahu, tempe, dan terong sebagai lauk makan siang. Tentu saya merasa nyaman, karena saya merasa sukses tidak “membunuh untuk makan”. Kebiasaan saya dari kecil, jika untuk kebanyakan orang makan tidak lengkap tanpa sambal, saya merasa tidak lengkap kalo makan tanpa kerupuk, atau apapun yang sejenis. Pokoknya yang kriuk-kriuk lah. Jadi sambil makan saya meraih rempeyek.

Sialnya baru setelah makan saya sadar bahwa saya makan rempeyek teri. Buru-buru saya mengambil satu lagi, yang masih utuh dan belum dimakan. Ternyata disitu ada 12 ekor ikan teri. Saya ambil yang lain lagi, ada 14 ekor. Saya ambil satu lagi, ada 10 ekor. Katakanlah saja yang saya makan itu ikan terinya sama dengan yang paling sedikit, 10 ekor. Tanpa sadar saya turut bertanggung jawab atas kematian mengerikan dari 10 ekor ikan. Padahal kalau saya makan ikan goreng misalnya, hanya satu nyawa saja yang melayang.

Sampai sekarang saya masih merasa konyol. Berniat dan merasa sukses tidak membunuh satupun, ternyata tanpa sadar saya membunuh 10 ekor sekali makan. Ya memang bukan saya yang membunuh sih, nelayan yang nangkep. Tapi kan dengan makan artinya saya ikut bertanggung jawab, atau malah mengambil alih tanggung jawab.

Bukan Sopan Pada Sesama Tapi Pada Uang

Agak larut malam, kebetulan janjian ketemuan sama orang di seputaran Kuta. Biar dia gak pusing nyari disepakatilah bertemu di seputaran “patung kuda” di perempatan Jalan Raya Tuban dan jalan raya yang menuju airport. Tempat ini memang rame pada malam hari, bercampur antara penduduk dan wisatawan yang mencari tempat nongkrong murmer. Maklum masih kawasan Kuta, ada banyak hotel dan fasilitas wisatawan lain di kawasan ini, termasuk toko oleh-oleh Krisna yang buka 24 jam yang berseberangan dengan Krisna Wisata Kuliner yang merupakan magnet wisata baru di kawasan ini.

Persoalannya tempat parkir merupakan komoditas langka di kawasan ini. Sambil mengumpat sendiri, beberapa kali saya berputar mencari celah yang bisa disisipi diantara jejeran motor, tukang jagung bakar, bakso, dan jajanan khas tongkrongan malam lainnya. Akhirnya saya melihat sebuah mobil yang tadinya parkir tiba-tiba menyalakan lampu dan mulai bergerak. Yes! Akhirnya dapat juga. Meskipun saat itu saya berada di lajur berseberangan, saya langsung memotong jalur dan setelah beberapa kali mundur maju saya bisa mendapatkan PW (posisi uwenak).

Matikan lampu, AC, turunkan kaca sedikit, turunkan kaca, saya mulai mencari PW lain, bukan mobil, tapi badan saya sendiri, siap-siap menunggu. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping mobil saya, menurunkan kaca kiri. “Pak, mau lama parkir disini?” tanya sang sopir berkepala botak sambil tetap menyalakan mesin dan lampu mobilnya. “Nggak tau, 10 menit, 20 menit, setengah jam”, jawab saya sekenanya. Mana saya tau berapa lama saya mesti nunggu. “Orang aneh …” batin saya sambil mulai menutup mata.

“Pak, ini saya biasa parkir mobil disitu”, teriak si botak membuyarkan kenyamanan saya yang sudah mulai menyandarkan kepala. Saya parkir di depan pura, dari mana ada orang goblok yang merasa punya hak jalanan di depan pura sebagai tempat parkir eksklusif buat mobil murahan berplat nomor pariwisatanya itu? “Lho, ini bukannya jalanan umum Pak?”, sahut saya.

“Saya biasa parkir disitu Pak”, sahutnya dengan nada meninggi. Merasa benar, emosi saya mulai terpancing juga. “Ya sudah kalo memang ini parkiran punya Bapak, saya pindah deh”, saya timpalin dengan nada nggak kalah nyebelin. “Nggak usah ngomong-ngomong soal jalan umum Pak, memang bukan jalanan saya, tapi saya biasa parkir disitu”, timpalnya dengan nada makin meninggi.

Saat saya buka pintu mobil berniat turun, beberapa orang menghampiri berusaha menengahi. Konon memang itu orang tinggal di dalam gang di belakang pura. Sopir itu memang biasa memarkir mobilnya disitu karena susah dibawa masuk ke dalem gang. Dia memang penduduk asli sana, jadi memang teman-temannya banyak. Mereka menyarankan saya untuk mengalah saja. “Mengalah pale lu peyang”, mulut comberan saya mulai nggak bisa ditahan. “Heh, saya bukan orang sini, gak punya rumah disini, gak kos disini, gak bakal ketemu lagi juga sama tuh orang, saya nggak takut”, umpat saya makin panjang.

Tapi beberapa saat kemudian kepala saya sedikit mendingin. Kasian tuh orang. Mungkin cape seharian narik. Mungkin seharian nongkrong nggak dapet turis buat ditarik. Mungkin dia ingin istirahat sejenak sambil tetap berharap dengan melihat mobilnya terparkir di luar akan ada orang yang tertarik menggunakan jasanya. Saya naik ke mobil, menghidupkan mesin, dan berlalu meninggalkan tempat itu, mencari tempat parkir lain.

Saya berusaha memaklumi. Tapi ya tetep saja sih. Saya menyayangkan sikap arogan yang sok jagoan merasa berkuasa dan mengklaim hak orang lain yang dia inginkan. Jelas itu hak saya, karena itu jalan umum dan saya sudah lebih dulu parkir disitu. Dan dia dengan kepongahannya merasa berhak mengklaim dengan cara yang jauh dari sopan. Kalau saja dia bicara baik-baik mungkin saya juga nggak akan memakinya. Tapi ya itulah, sebagian orang memang terlalu tolol untuk dapat menanggalkan kepongahan.

Sambil memutar lagi mencari celah lain, saya masih berfikir. Apa iya dia bisa menyenangkan pemakai jasanya dengan kelakuan seperti itu. Tapi saya memutar pikiran saya ke arah lain. Mungkin dia sudah seharian tersiksa. Orang sepongah dia memaksakan diri untuk menjadi pelayan orang-orang yang memakai jasanya dengan imbalan rupiah tentu sangat tertekan dia. Kalau benar begitu, sungguh menyedihkan si botak itu. Dia sopan pada uang, bukan pada sesama manusia.

Mencintai Kopi

Mencintai sesuatu yang manis mungkin mudah-mudah saja. Tapi mencintai yang pahit pastinya lain lagi ceritanya. Banyak orang Indonesia mencintai kopi, tapi kebanyakan orang menaburkan bersendok-sendok gula ke dalam cangkir kopinya untuk menutupi rasa pahit dengan rasa manis. Lalu kenapa nggak minum air gula saja? Manusia kadang memang aneh.

Filosofi Kopi

Dalam rasa pahit kopi tersembunyi sejuta rasa nikmat. Coba saja minum kopi tanpa gula perlahan. Ditahan di mulut jangan langsung ditelan. Dirasakan perlahan di lidah. Ada sensasi rasa manis yang tersembunyi di balik rasa pahitnya. Filosofi kopi ini mirip dengan kehidupan. Kita bisa merasakan kebahagiaan hakiki saat kita bisa menemukan rasa manis yang tersembunyi di balik tumpukan pengalaman pahit.