Opini

Home/Opini

Startup Digital di Indonesia

Meskipun sekarang saya hanya mengamati sambil lalu dari kejauhan saja, saya pernah sangat serius dengan dunia startup digital di Indonesia. Tidak hanya menginvestasikan waktu dan dana untuk mentransformasi ide menjadi sesuatu yang bisa dipergunakan pemakai di ranah maya, tetapi juga sudah memulai pembicaraan dengan beberapa venture capital di Indonesia yang nota bene rata-rata membawa dana dari luar yang cukup besar di saku mereka masing-masing.

Tetapi akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi menjalani rute tersebut. Ketertarikan saya untuk mengembangkan sesuatu yang kemudian bisa meledak setelah mendapatkan suntikan dana dari perusahaan venture capital sudah tidak ada lagi. Akhirnya bukan hanya menghentikan pembicaraan dengan prospek venture capital dan menarik diri dari hingar-bingar komunitas startup digital Indonesia, saya juga menghentikan pengembangan dan menarik eksistensi online dengan mematikan websitenya.

Ada banyak pertimbangan yang membuat saya tidak tertarik untuk menjadi the next Satya Witoelar, Andrew Darwis, Nadiem Makarim, dan sejumlah icon sukses startup digital Indonesia lainnya. Beberapa diantaranya yang saya ingat saya coba tuliskan di bawah ini.

Omong Kosong Dengan Inovasi

Semakin banyak saya bicara dengan eksekutif-eksekutif venture capital di Indonesia dan in kemudian terkonfirmasi dengan “wejangan” dari sejumlah teman yang sudah lebih sukses di jalur ini, konsep pengembangan digital startup di Indonesia tidak berbicara mengenai inovasi. Alih-alih mencari sesuatu yang inovatif, kita cenderung didorong untuk nggak mikir dan cukup jadi pembebek saja.

Dari sisi ide bisnis misalnya, alih-alih menggali dan mendorong kita mengembangkan sesuatu yang orisinil, mereka cenderung mendorong kita mencari sesuatu yang sukses dilaksanakan di luar negeri kemudian diimplementasikan di Indonesia. Kalau punya kreativitas lebih, paling banter cuma jadi sekedar bumbu, atau mencari jalan untuk menyesuaikannya dengan kondisi dan selera pasar disini. Sebetulnya sih tidak sulit melihat contoh-contoh kasusnya. Yang cukup mencolok misalnya provider sistem pembayaran digital yang marak muncul mengikuti sukses PayPal.

Selain orisinalitas ide, orisinalitas konten juga setali tiga uang. Entah berapa kali saya disarankan untuk nyedot konten dari sumber-sumber yang sudah ada dengan alasan yang menurut saya sangat pragmatis dan jauh dari jiwa inovasi. “Kalo bikin konten sendiri, kelamaan!” Padahal mereka sendiri sependapat dengan saya waktu saya mengatakan pada mereka bahwa konten yang ada sekarang tidak cukup berkualitas dan justru itu yang ingin saya perbaiki untuk melayani kebutuhan audience.

Saya Nggak Mau Diatur Orang

Saya sangat faham bahwa venture capitalist selain memiliki backup dana juga membawa backup pengalaman. Sayangnya alih-alih dibawa untuk membantu kita mewujudkan gagasan kita seutuhnya, mereka justru lebih tertarik untuk mengarahkan sesuai dengan pengalamannya. Mungkin nggak ada yang salah dengan itu sih. Daripada kepentok-pentok, ada yang mengarahkan ke jalan yang sudah terbukti sukses kan mungkin memang lebih baik.

Tapi tunggu dulu. Kalau kita bicara inovasi, kita memang tidak bicara “well-travelled track”. Mari kita coba pakai analogi. Pendaki gunung selalu disarankan untuk mengikuti rute yang sudah ada, supaya aman dan tidak tersesat untuk mencapai tujuan, apalagi kalau bukan puncak. Tapi saat kita bicara inovasi, kita memang bicara sesuatu yang nyeleneh, orang bilangnya “out of the box”. Bukan hanya mencari rute baru yang lebih seru dan menantang, kita justru berfikir mencari gunung yang belum pernah didaki orang.

Mungkin bicara gunung sih nggak ada ya, tapi kalau bicara ide bisnis mestinya banyak. Karena saat kita bicara ide bisnis yang inovatif, mestinya kita bicara mendirikan gunug. Venture capitalist di Indonesia dan mungkin juga di luar sana cenderung mendorong kita untuk memastikan adanya kapasitas pasar yang cukup besar. Padahal banyak guru bisnis terkemuka justru menyarankan sesuatu yang sebaliknya, sesuatu yang benar-benar inovatif itu belum ada pasarnya, justru kita yang menciptakan pasar itu.

Quote terkenal dari Henry Ford yang kemudian sering didengungkan Steve Jobs sangat relevan disini. “If I had asked people what they wanted, they would have said faster horses.” Tapi alih-alih beternak kuda dan menciptakan jenis kuda yang memiliki tenaga, otot, dan tulang yang lebih kuat, Ford memilih untuk menciptakan mobil.

Kalau dibilang venture capital di Indonesia cenderung mengatur, pastinya mereka akan menolak. Tapi kalau kita tidak mengikuti saran mereka, mereka bilang tidak tertarik untuk berinvestasi. Jadi apa bedanya?

Soal atur-mengatur dan intervensi, bukan hanya di awal saja. Makin besar startup digital kita, potensi tekanan internal juga semakin besar. Semakin besar startup kita, semakin kita memerlukan dana luar untuk mengakselerasi perkembangan lebih cepat lagi, semakin banyak kita perlu suntikan dana segar. Konsekuensinya kita membutuhkan putaran pendanaan berikut, berikut, dan berikut, yang secara langsung juga membuat komposisi kepemilikan saham kita terus berkurang.

Alih-alih mengembangkan ide kita sendiri, lama-lama kita justru menjadi pelayan tujuan komersial mereka. Nggak heran kalau ada kasus dimana founder justru kehilangan kendali bahkan kehilangan kepemilikannya sama sekali. Founder yang kehilangan posisi CEO misalnya, bejibun jumlahnya.

Saya Nggak Mau Ikut Menjual Kapling Digital Tanah Air

Hidup di Bali membuat saya bukan hanya melihat perkembangan startup digital di Bali tetapi lebih menarik adalah dunia bisnis properti di Bali, dimana kebanyakan tanah yang memiliki potensi komersial yang tinggi sudah dikuasai investor, banyak diantaranya orang asing. Tanah kosong yang beachfront – berlokasi di tepi pantai – entah seterpencil apapun sudah hampir pasti sudah tidak lagi dimiliki orang Bali asli.

Orang asing memang secara hukum tidak diijinkan untuk memiliki properti berupa tanah di Indonesia, tentunya termasuk Bali. Tapi banyak orang Bali sendiri yang bersedia dibayar untuk menjadi “nominee”, dipinjam namanya saja, supaya orang asing bisa “memiliki” tanah di Bali. Namanya nyari duit mungkin sah-sah saja, tapi di mata saya mereka tidak lebih seperti pengkhianat.

Beberapa startup digital di Indonesia memang kemudian disuntik dana oleh perusahaan lokal. Tapi kebanyakan venture capital di Indonesia terafiliasi dengan sumber pendanaan dari luar. Di satu sisi kita bisa saja bicara “menarik dana asing dalam bentuk investasi di Indonesia”, bukankah itu yang memang sangat dibutuhkan negeri ini? Tapi dari sisi idealisme pribadi saya, situasi seperti itu membuat saya berada di posisi seperti si nominee tanah. Saya tidak cukup bodoh untuk menjadi agen asing menguasai langit digital tanah air.

Kandasnya Impian Shinkansen Indonesia

Yang namanya Shinkanzen Indonesia memang tidak ada, mungkin malah kita tidak akan pernah melihan kereta super-cepat ini melesat di tanah air. Impian yang sepertinya sudah di depan mata, tiba-tiba lenyap seketika karena kekonyolan para petinggi negeri ini. Siapa lagi kalau bukan Presiden Jokowi dan para mentrinya, karena meskipun di era Presiden SBY lalu wacana kereta cepat ini sudah ada, tetapi memang tetap dibiarkan hanya sebatas wacana tanpa ada tanda-tanda keseriusan untuk mewujudkannya.

Baru-baru ini pejabat-pejabat itu membuat impian kereta cepat ini seolah-olah bukan lagi sekedar kembang tidur. Rute sudah ditentukan, berbagai rencana digelar, bahkan negara-negara yang memiliki teknologi tersebut juga sudah diminta untuk membuat analisa dan mengajukan proposal. Impian semakin memuncak saat dikatakan bahwa pada tanggal tertentu Presiden Jokowi akan menentukan siapa yang memenangkan tender pembangunan kereta cepat pertama di Indonesia yang akan melayani rute Jakarta – Bandung. Masing-masing negara bahkan sudah ancang-ancang, begitu diputuskan mereka akan segera bergerak dan kereta itu akan mulai beroperasi 3 tahun mendatang, keren bangat.

Sayangnya impian itu kandas saat Presiden Jokowi, alih-alih memilih salah satu proposal, justru memutuskan untuk membatalkan proyek tersebut. Meskipun tidak saklek menyatakan “batal”, tapi dari sekian panjang kalimat yang berputar-putar baik dari Presiden Jokowi sendiri maupun mentri-mentrinya yang terkait, secara tidak langsung sih artinya batal, orang yang sedikit waraspun sudah bisa mengerti.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan pertimbangannya. Saya kira pertimbangan-pertimbangan yang dikemukakan Presiden Jokowi sangat masuk akal. Dengan pertimbangan-pertimbangan itu, saya kira memang yang terbaik adalah membatalkan. Ya entahlah buntutnya apapun. Buntut yang megatakan bahwa akan tetap dilaksanakan tetapi dengan skema B-toB murni, atau buntut lain yang mengatakan alih-alih kereta cepat sekelas Shinkanzen, akan diganti dengan kereta berkecepatan menengah saja. Ada juga buntut lain yang megatakan bukan lagi Jakarta – Bandung tetapi Jakarta – Surabaya.

Yang saya sayangkan adalah pembatalannya. Bukankah dari awal kita sangat-sangat tahu bagaimana keuangan negeri ini demikian terbatas sehingga membiayai proyek mercu suar seperti itu lebih merupakan pemborosan? Kalau skema yang ditawarkan kedua negara tersebut tetap melibatkan pendanaan negara, tentu karena ada sinyal bahwa itu memungkinkan. Coba kalau dari awal sebelum mereka melakukan analisa, batasan tersebut sudah terlebih dahulu ditentukan. Cerita lainnya, jarak Jakarta – Bandung itu dari dulu ya segitu-itu. kalau dengan jarak segitu kereta tidak bisa mencapai kecepatan puncak, apa iya baru ketahuan sekarang?

Nggak heran kalau kemudian banyak yang menuduh kalau pemerintahan sekarang itu kebanyakan pencitraannya. Karena ya begini-ini modelnya. Mengiming-imingkan rencana-rencana hebat yang baru kemudian dikatakan tidak cukup realistis sehingga harus dibatalkan. Apakah kemudian rencana-rencana lain begitu juga? Tol laut? Tol Sumatera? Jaringan kereta api luar Jawa? Pembangkit 35,000 MW? Jangan-jangan malah soal janji pemberantasan korupsi juga begitu nasibnya.

Sekali lagi saya menyoroti persoalan “janji surga” disini. Membuat kita terbuai dengan tumpukan rencana-rencana besar yang pada akhirnya kandas karena sebetulnya rencana itu memang tidak realistis. Kemudian lagi-lagi pertanyaannya apakah pemimpin-pemimpin kita itu terlalu naif, mengira rencana-rencana itu bisa dilaksanakan ternyata tidak, atau memang dari awal mereka sadar itu tidak bisa dilaksanakan tetapi sengaja dihembuskan untuk … hmmm … ya yang satu itu lagi, pencitraan.

Pribadi bagi saya nggak penting-penting amat itu shinkansen Indonesia itu. Soal praktis ya kapan juga sih saya mau naik itu kereta. Gak banyak apa malah nggak ada sama sekali urusan saya bepergian antara Bandung – Jakarta. Kalaupun ada, ada banyak pilihan moda transportasi lain. Kalau soal kecepatan, ujung-ujungnya sama saja seperti pesawat. Naik pesawatnya sih cepet, keluar masuk antara kota dan Bandara-nya itu yang bikin urusan jadi panjang banget.

Akhirnya, apa juga bangganya jadi pengguna? Kalau seperti negara-negara Arab, jadi pengguna karena memang kaya sih mending. Lha kita jadi pengguna sementara anggaran dibiayai hutang, apa hebatnya. Bisa bikin, itu baru hebat!

Belajar Dari Bob Sadino

Saya sudah lama mengagumi sosok Bob Sadino, seorang pengusaha sukses yang konon memulai usahanya dari sangat-sangat kecil. Saya nggak bilang dari nol karena pada dasarnya tidak ada yang memulai usaha dari nol. Kalaupun mungkin sama sekali tidak ada uang yang ditanam sebagai modal, setidaknya ada otak dan tenaga, yang konon justru lebih bernilai dari sekedar uang. Jadi itulah, setidaknya dari sedikit yang saya tahu, konon Oom Bob ini memulai usahanya dari berjalan kaki dari pintu ke pintu menjajakan telur yang dihasilkan ayam peliharaannya.

Baru-baru ini saat menghabiskan waktu di Gramedia saya menemukan biografinya yang berjudul “Belajar Goblok dari Bob Sadino”. Tentunya saya tidak berfikir dua kali untuk menyambarnya, memasukkan ke dalam tas belanja, dan membawanya pulang … setelah membayarnya terlebih dahulu lah pastinya.

Seperti umumnya sebuah biografi, buku yang relatif tipis sebagai biografi tokoh sebesar Bob Sadino sih, buku ini dibuka dengan cerita mengenai latar belakang pribadi. Dari kapan dan dimana lahir, pendidikan, riwayat karir, pernikahan, keluarga, dan sebagainya. Tapi tentu sebagai icon pengusaha yang sering dijadikan patron – tokoh yang dikagumi, diidolakan, bahkan diikuti – oleh banyak pegusaha (atau setidaknya mereka yang tertarik menjadi pengusaha) tentu yang paling menarik adalah kisah bagaimana Oom Bob terjun ke dalam bisnis, mengawali, membesarkan, sampai menikmati hasilnya.

Saya sengaja membuang kata “goblok” saat memilih judul di atas. Bukunya sendiri memang bukan saja pada judul tetapi isinyapun sarat dengan kata yang satu itu. Goblok disana sini. Tapi alasan saya membuang kata yang satu itu karena saya sama sekali tidak menemukan kegoblokan dalam kisah dan jalan pikiran Bob Sadino.

Logis dan realistis, bagi saya bukan hanya jauh dari goblok tetapi justru sebaliknya. Memang bukan cuma out of the box tapi sepertinya Oom Bob sama sekali tidak mengenal adanya box. Tapi justru itulah yang kita butuhkan. Kalau kita melihat banyak tokoh lain yang sekelas bahkan mungkin lebih, meskipun mungkin tidak diungkapkan secara eksplisit, mereka memiliki pola berfikir dan pola bertindak yang setali tiga uang. Contoh kecil saja, Baik Bob Sadino maupun Steve Jobs sama-sama berfikir “menciptakan pasar” alih-alih berusaha mengidentifikasi pasar, memahami kebutuhannya, kemudian melayani kebutuhan tersebut.

Nah kalau dengan pola pikir seperti itu Steve Jobs dikategorikan orang sebagai jenius, apa iya kita mau ikut-ikutan mengatakan pola yang sama yang ada di kepala Bob Sadino sebagai goblok?

Ada banyak hal menarik dari pikiran Bob Sadino di buku itu. Tapi yang paling menarik buat saya adalah hidup tanpa harapan, tanpa tujuan, tanpa rencana. Lagi-lagi, bukan hanya out of the box, bukan hanya purple cow, karena pikiran itu justru bertolak belakang dengan konsep yang dimiliki, diyakini, dan diajarkan hampir semua orang. Apalagi saat bicara bisnis, mana ada teori manajemen yang tidak mengajarkan pentingnya harapan, tujuan, dan rencana.

Saya sangat menjiwai pikiran itu. Pikiran mengenai hidup tanpa harapan, tanpa tujuan, tanpa rencana. Saya sangat yakin kalau filosofi yang sama juga bisa diterapkan dalam bisnis. Sederana saja alasannya. Bukankah bisnis itu sendiri merupakan bagian kecil dari kehidupan kita? Kalau soal pilihan baik buruk atau benar salah kan memang tidak ada patokannya lah. Baik menurut seseorang belum tentu baik buat orang lain. Toh pada akhirnya hidup ini hidup kita sendiri. Bagaimana kita menjalaninya, selama tidak melenceng dari norma dan agama ya sah-sah saja.

Tadinya saya malu punya pikiran seperti itu, punya keyakinan seperti itu, punya filosofi hidup seperti itu. Setidaknya melalui bukunya Oom Bob menunjukkan bahwa ada orang, tokoh sebesar dan sesukses beliau, punya pikiran yang sama. Jadi saya nggak goblok-goblok amat dong … amat gobok mungkin.

Nggak Puas Kalo Ibu Angkat Angeline Nggak Kena

Kasus pembunuhan atas gadis kecil berusia 8 tahun bernama Angeline di Bali menarik perhatian publik yang cukup besar. Mungkin karena sebelum ditemukan sudah tak bernyawa di halaman rumah tempatnya tinggal, Angeline sudah dilaporkan hilang sejak hampir sebulan lalu. Sementara berita hilangnya Angeline sendiri sudah sangat menarik perhatian publik, khususnya seliwerannya berita mengenai nasib malang gadis kecil berparas cantik itu di tangan ibu angkatnya.

Memang kisah kekejaman ibu tiri selalu menjadi domain yang menarik. Mana ada coba anak kecil di Indonesia yang tidak diperdengarkan cerita mengenai kejamnya seorang ibu tiri. Di luar rumah, cerita sejenis tidak kalah banyaknya, dari mulai kisah Cinderella yang berkali-kali di angkat ke layar kaca sampai film komedi legendaris berjudul Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota, yang meskipun tidak secara langsung berkisah mengenai kekejaman ibu tiri tapi ya tetep nyambungnya kesitu.

Ibu angkat mungkin tidak 100% beda dengan ibu tiri, tapi yang jelas ya sama-sama bukan ibu kandung.

Kisah seputar bagaimana sang ibu angkat membentak-bentak Angeline, menyuruhnya mengurus ayam setiap pagi sebelum sekolah layaknya buruh, sampai membiarkan si anak berjalan kaki berkilo-kilometer ke sekolah, sesuatu yang sangat langka jaman sekarang ini. Meskipun sempat dibantah dalam salah satu wawancara yang disiarkan televisi, semua orang lebih memilih mempercayai cerita kekejaman yang lebih dahulu tersiar.

Apalagi kemudian diketahui bahwa Angeline merupakan pewaris sebagian besar harta warisan ayah angkatnya yang ternyata seorang bule itu. Sontak publik mengambil kesimpulan bahwa kekejaman yang berakhir dengan pembunuhan itu ada hubungannya dengan keinginan si ibu angkat menguasai harta warisan.

Saat akhirnya jasad Angeline ditemukan terkubur di halaman rumah yang ditinggalinya bersama ibu tirinya sendiri, sekitar 3 minggu dari waktu dia dilaporkan hilang, mata semua orang langsug tertuju pada sang ibu angkat. Aneka kecaman langsung beredar terutama di ranah media sosial. Semua beramai-ramai menuduh, menghujat, memaki, mengancam, sang ibu angkat. Padahal saat itu pihak kepolisian sendiri jangankan memeriksa orang-orang yang diduga terkait, evakuasi jenazahnya saja belum selesai.

Saat pemeriksaan marathon yang kemudian dilakukan kepolosian terhadap ibu angkat, kedua kakak angkat, dan sejumlah orang yang tinggal serumah menghasilkan kesimpulan sementara bahwa pembunuhan tersebut dilakukan orang lain dan si ibu angkat sama sekali tidak terlibat, publik juga seolah tidak mau percaya. Sepertinya publik baru akan cukup merasa puas kalo polisi bisa menyimpulkan bahwa si ibu angkat merupakan otak dari kekejaman itu. Kalo nggak rasanya akan terus berputar-putar perang logika yang ujung-ujungnya seperti tidak masuk akal kalau si Agus Tai si mantan pembantu sebagai pelaku tunggal.

Tapi apapun lah, itu kekejaman yang luar biasa. Ketika banyak orang beramai-ramai menyebar petisi meminta pemerintah di Bali untuk menghentikan pembantaian anjing dengan alasan untuk mengendalikan wabah rabies, justru muncul kasus kekejaman yang luar biasa atas seorang anak manusia.

Pada akhirnya, kita tidak bisa mengembalikan nyawa Angeline. Kita juga tidak bisa membayar rasa sakit luar biasa yang mungkin diderita Angeline sebelum kehilangan nyawanya, siapapun yang dihukum, apapun hukumannya. Tapi bagaimanapun kejahatan harus dibayar, yang salah harus dihukum. Soal hukum Tuhan bukan urusan kita, urusan kita terbatas pada memastikan bahwa hukuman negara bisa terlaksana maksimal.

Angeline pasti sudah nyaman dan bahagia di tempatnya yang baru. Jauh dari kekejaman orang-orang yang tadinya berada disekitarnya.

Mobilegeddon, SEO Juga Bisa Lebay

Beberapa waktu terakhir ini muncul istilah baru yang dipopulerkan salah satu portal informasi SEO global yang cukup terkemuka. Istilah “mobilegeddon” dimunculkan merujuk pada munculnya penyempurnaan terbaru pada sistem mesin pencari Google dimana website-website yang “mobile friendly” mendapatkan prioritas lebih tinggi untuk hasil pencarian yang dilakukan melalui mobile device, perangkat pintar berlayar mini yang biasa kita kenal sebagai smartphone alias ponsel pintar.

Sebetulnya update logika sistem mesin pencari yang dikalangan praktisi SEO dikenal sebagai “algoritma” ini bukanlah sesuatu yang aneh. Penyedia mesin pencari khususnya Google secara terus-menerus menyempurnakan sistemnya. Untuk itu setiap tahun biasanya ada puluhan update yang diimplementasikan. Sebagian menjadi heboh karena efeknya sangat signifikan, sebagian lain bak angin lalu karena efeknya tidak terlalu terasa.

Memang soal update algoritma dan kawan-kawan ini hanya menjadi perhatian kalangan sangat terbatas, yaitu mereka yang bergerak di bidang digital marketing khususnya yang menekuni SEO. Untuk kalangan yang tidak bermain di bidang ini, update nggak update, heboh nggak heboh tidak begitu menjadi perhatian. Mereka yang sering memakai Google untuk mencari informasi di dunia maya pun mungkin tidak cukup detail memperhatikan peningkatan kualitas hasil pencarian yang ditampilkan Google, sebagai hasil dari update-update ini.

Tetapi bagi kalangan “pemain” ceritanya bisa sangat berbeda, bisa soal periuk nasi, bisa soal hidup dan mati usahanya. Karena itu setiap update algoritma Google selalu dipantau, diantisipasi, dibedah, karena kalau sampai ranking website yang dikelola terkena dampak dan rankingnya turun, jatuh, atau malah menghilang sama sekali, efeknya tidak jauh beda dengan pedagang kaki lima yang lapaknya diobrak-abrik Tramtib, nggak ada pembeli, nggak bisa jualan, nggak ada pendapatan.

Nah khusus untuk mobile friendly ini, sebetulnya efeknya tidak total, meskipun memang cukup serius. Update ini hanya mempengaruhi pencarian melalui mobile device khususnya smartphone. Jika pemakai melakukan pencarian melalui perangkat berlayar besar seperti komputer atau tablet, siatuasinya akan tetap sama dengan sebelum update ini diimplementasikan. Jadi ada sisa nafas untuk melalukan perubahan sesuai yang diinginkan Google.

Sementara itu istilah “mobilegeddon” kan merupakan plesetan dari “armageddon”. Armageddon sendiri adalah pertempuran habis-habisan antara kebaikan dan keburukan yang berakhir dengan kehancuran total jagat raya, dalam istilah yang lebih kita kenal, sama dengan kiamat. Nah kalo perubahan segitu aja direferensikan sebagai sesuatu yang seperti kiamat, apa lagi namanya kalau bukan lebay.

Lebay sebeturnya kan lebih condong kepada instabilitas emosi kalangan remaja, bagaimana mereka menyikapi berbagai tekanan kehidupan yang menyakitkan hati, khususnya soal asmara. Soal SEO soal bisnis. Apalagi istilah ini pertama kali muncul dari portal SEO terkemuka kelas dunia. Entahlah sih pertama-pertama bangetnya dari mana, tapi setidaknya dari situlah pertama kali saya membaca istilah itu. Kelewatan banget deh kalo lebay.

Mencintai Kopi

Mencintai sesuatu yang manis mungkin mudah-mudah saja. Tapi mencintai yang pahit pastinya lain lagi ceritanya. Banyak orang Indonesia mencintai kopi, tapi kebanyakan orang menaburkan bersendok-sendok gula ke dalam cangkir kopinya untuk menutupi rasa pahit dengan rasa manis. Lalu kenapa nggak minum air gula saja? Manusia kadang memang aneh.

Filosofi Kopi

Dalam rasa pahit kopi tersembunyi sejuta rasa nikmat. Coba saja minum kopi tanpa gula perlahan. Ditahan di mulut jangan langsung ditelan. Dirasakan perlahan di lidah. Ada sensasi rasa manis yang tersembunyi di balik rasa pahitnya. Filosofi kopi ini mirip dengan kehidupan. Kita bisa merasakan kebahagiaan hakiki saat kita bisa menemukan rasa manis yang tersembunyi di balik tumpukan pengalaman pahit.