Sekali lagi, mega-koruptor Gayus Tambunan yang menanggung beban hukuman 30 tahun itu menunjukkan kesaktiannya. Entahlah, atau malah mungkin sebaliknya, sekali lagi Gayus menunjukkan pada kita betapa bobroknya mental para penegak hukum negeri ini. Seperti yang sedang heboh dibahas berbagai media, melalui sharing di social media, Gayus tertangkap kamera netizen sedang berada di sebuah restoran di Jakarta. Bukan hanya itu, di foto itu, selain Gayus yang nampak santai dibalut pakaian casual yang dikenakannya, juga nampak sebuah ponsel dan dua orang wanita.

Gayus memang sudah berkali-kali diberitakan mempecundangi lembaga-lembaga penegakan hukum. Kebobrokan aparat penegak hukum kita juga sudah menjadi rahasia umum. Tapi sebagai pemimpin dari lembaga yang dipermalukan Gayus dengan ulahnya kali ini, tak ayal membuat Mentri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly kebakaran jenggot dan megumbar kemarahannya di depan para wartawan yang tak ayal menyerbunya begitu kasus ini menyeruak.

Tapi justru ini yang membuat saya bingung. Ya tentulah saya yang bodoh, buktinya Yasonna Laoly menjadi mentri, sedangkan saya bukan siapa-siapa selain rakyat biasa. Kalau saja ada yang bisa memberi pencerahan, tentu akan sangat saya hargai. Saat Mentri Yasonna marah dan mengatakan akan memerintahkan jajarannya untuk memindahkan Gayus ke Lapas Gunung Sindur, saya anggap angin lalu, saya fikir mungkin hanya ungkapan kemarahan karena merasa “dikacangin” saja. Tapi ketika kemudian pemindahan itu dilaksanakan, saya beneran heran.

Hubungan Gayus Makan di Restoran dengan Keamanan Lapas Apa?

Lapas Gunung Sindur konon merupakan Lapas baru dengan tingkat keamanan “super maximum security” karena disiapkan khusus untuk orang-orang yang sangat berbahaya, para bandar narkoba. Hubungannya dimana, itu yang sampai sekarang masih saya coba cari-cari. Rasanya koq nggak nyambung ya. Kalau misalnya Gayus kabur dari penjara, wajar kalau kemudian dia dipindahkan ke tempat dengan sistem keamanan lebih tinggi, supaya dia tidak mencoba membobol lagi (dan berhasil lagi).

Tapi sekarang Gayus kan keluar dari Lapas dengan prosedur yang benar. Dia keluar dengan ijin karena akan menghadiri sidang di Pengadilan Agama Jakarta Utara, menghadapi gugatan cerai istrinya. Dalam hal ini saya simpati dengan Gayus, kasian. Sesuai prosedur, selain mengantongi ijin, dia juga keluar dengan pengawalan yang konon melibatkan dua unsur, dari kepolisian dan Kemenhumkam sendiri.

Konfirmasi Bahwa Lapas Sukamiskin Kurang Aman

Sisi lain, ekspose bahwa Gayus dipindahkan ke Lapas yang memiliki tingkat keamanan lebih tinggi juga secara tidak langsung menelanjangi buruknya kondisi Lapas-Lapas di Indonesia. Dengan disebutkan dipindahkan ke Lapas yang tingkat keamanannya lebih tinggi, secara langsung ini juga menyatakan bahwa tingkat keamanan Lapas Sukamiskin lebih rendah, secara tidak langsung artinya lebih mudah dibobol. Padahal disana berkumpul penjahat-penjahat yang tidak kalah busuk dari bandar narkoba, koruptor kelas kakap.

Lagi-lagi, padahal kan Gayus tidak meloloskan diri dari Lapas, bukan kabur dengan membobol kunci misalnya. Dia berhasil membujuk, entah dengan iming-iming apa, pengawal-pengawalnya untuk melakukan penyimpangan, mengijinkannya “ngeluyur”. Kalau soal manusia, pengawal yang melakukan penyimpangan, lalu apa hubungannya dengan faktor keamanan Lapas?

Lalu Apa Hubungannya Gayus “Ngeluyur” dengan Narkoba?

Yang lebih menarik lagi adalah karena Lapas Gunung Sindur itu adalah Lapas yang dikhususkan untuk gembong narkoba. Pastinya ada alasan mengapa kemudian pemerintah menyiapkan Lapas-Lapas khusus untuk jenis kejahatan tertentu. Lapas Gunung Sindur untuk gembong narkoba dan Lapas Sukamiskin untuk koruptor dalam hal ini.

Bukankah logikanya, apapun yang dilakukan narapidana, seharusnya penyelesaiannya ada di masing-masing lapas sesuai peruntukkannya? Dimasukkan ke ruang isolasi misalnya. Atau menggunakan instrumen hukuman lain, tidak mendapatkan remisi misalnya. Rasanya itu jauh lebih logis daripada kemudian memindahkannya ke tempat yang tidak sesuai dengan peruntukkannya.

Menarik kemudian pernyataan mantan pengacara kondang yang berpindah jalur menjadi politisi asal Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, yang dengan gaya ceplas-ceplosnya mengatakan “Aku tahu, kalau digeser ke sana, bisa jadi bandar narkoba dia”.